WARTAPTM.ID, PEKANBARU — Konsorsium Internal Audit Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (IA-PTMA) mendorong transformasi Satuan Pengawas Internal (SPI) menjadi mitra strategis dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi. Penguatan audit internal dinilai penting untuk memastikan pengelolaan institusi berjalan transparan, akuntabel, profesional, dan berintegritas.
Upaya tersebut menjadi fokus Workshop dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Konsorsium IA-PTMA yang diselenggarakan di Auditorium Kampus Utama Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Pekanbaru, pada 28–30 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti 72 peserta dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.
Mengusung tema “Transformasi Audit Internal PTMA: Memperkuat Peran SPI sebagai Strategic Partner dalam Good University Governance”, kegiatan tersebut dibuka oleh Rektor UMRI, Saidul Amin, pada Kamis (29/10/2026).
Ketua Konsorsium IA-PTMA, Banu Witomo, menilai perubahan lingkungan pendidikan tinggi menuntut perguruan tinggi untuk terus memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kualitas tata kelola organisasi. Dalam konteks tersebut, audit internal tidak semestinya dipandang sebatas mekanisme untuk menemukan kesalahan, tetapi juga sebagai instrumen perbaikan institusi.
“Audit internal bukan mencari kesalahan, melainkan sistem yang membantu organisasi mencari jalan kebenaran dalam menjalankan organisasinya,” ujarnya.
Menurut Banu, tata kelola yang baik bukan hanya upaya memenuhi ketentuan regulasi, melainkan juga bentuk tanggung jawab dalam menjaga amanah Persyarikatan. Karena itu, penguatan SPI menjadi salah satu pilar penting untuk mendukung kemajuan dan peningkatan mutu PTMA.
Ketua Panitia, Zul Azmi, menjelaskan bahwa workshop membahas sejumlah aspek penting dalam pengelolaan perguruan tinggi, mulai dari penyusunan laporan keuangan, audit, dan perpajakan hingga penguatan peran SPI sebagai mitra strategis institusi.
“Penguatan audit internal merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah Persyarikatan sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah,” katanya.
Transformasi tersebut menuntut SPI tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kepatuhan, tetapi juga berperan dalam mengidentifikasi risiko, mendorong pencegahan penyimpangan, dan memberikan masukan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan institusi.
Dengan demikian, hasil audit diharapkan dapat menjadi dasar bagi pimpinan perguruan tinggi untuk mengambil keputusan secara lebih terukur dan bertanggung jawab.
Rektor UMRI, Saidul Amin, turut menegaskan pentingnya SPI dalam menjaga kesehatan organisasi perguruan tinggi. Menurutnya, pengawasan internal membantu memastikan kepatuhan terhadap peraturan sekaligus mengidentifikasi risiko dan mencegah penyimpangan dalam pengelolaan sumber daya institusi.
Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan di lingkungan PTMA perlu berjalan beriringan dengan kesadaran moral dan nilai-nilai keislaman. Prinsip Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), kata dia, harus menjadi landasan dalam pengelolaan perguruan tinggi, termasuk dalam audit, pengawasan, dan pengambilan keputusan.
“Perguruan tinggi Muhammadiyah itu dijiwai oleh Al-Islam Kemuhammadiyahan,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan audit internal bukan hanya sebagai mekanisme administratif dan profesional, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral dalam mengelola amanah Persyarikatan.
Workshop dan Rakornas IA-PTMA juga menghadirkan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah sekaligus Ketua Lembaga Pembina dan Pengawas Keuangan (LPPK) PP Muhammadiyah, Mahfud Sholihin, sebagai pembicara utama.
Sejumlah narasumber lainnya dijadwalkan berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai audit internal, pengawasan keuangan, perpajakan, serta tata kelola perguruan tinggi. Forum ini menjadi ruang bagi para pengelola SPI untuk memperkuat kompetensi sekaligus menyelaraskan pemahaman mengenai praktik pengawasan di lingkungan PTMA.
Melalui kegiatan tersebut, UMRI berharap terbangun kesamaan persepsi dan sinergi antar-SPI di berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Hasil pembahasan diharapkan dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing institusi untuk meningkatkan kualitas pengawasan dan pengelolaan organisasi.
Penguatan audit internal pada akhirnya menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan, meningkatkan akuntabilitas, dan memastikan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dikelola secara profesional dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.

Be the first to comment