UM Bima Selenggarakan Workshop Nasional Penguatan Kurikulum OBE dan Strategi Pembelajaran Berdampak

Universitas Muhammadiyah (UM) Bima menggelar Workshop Nasional “Teknik Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi Berbasis OBE dan Strategi Pembelajaran Berdampak” di Aula Kampus 1, Rabu (12/11). Kegiatan ini menghadirkan tiga pakar dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah berpengalaman dalam pengembangan Outcome-Based Education (OBE) serta pengelolaan akreditasi internasional.

Ketiga narasumber dari UMM tersebut ialah Zulfatman (Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran), Dyah Worowirastri Ekowati (Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran), serta Rina Wahyu Setya Ningrum (Kepala Divisi Pengembangan Akreditasi dan Pemeringkatan).

Dalam sambutannya, Wakil Rektor UM Bima Syamsuddin menegaskan bahwa penerapan kurikulum OBE merupakan langkah strategis kampus untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

“Kurikulum berbasis OBE bukan sekadar tuntutan akreditasi. Tetapi upaya sistematis agar capaian pembelajaran lulusan selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini mampu mendorong dosen UM Bima menerapkan pendekatan pembelajaran yang berdampak, terukur, dan relevan dengan perkembangan global.

Pada sesi pertama, Dyah Worowirastri mengulas teknik penyusunan kurikulum perguruan tinggi berbasis OBE serta best practice pelaksanaannya di UMM. Ia menekankan pentingnya keselarasan antara profil lulusan, capaian pembelajaran, hingga desain mata kuliah.

“Setiap elemen kurikulum harus menjawab pertanyaan: apa hasil dari proses belajar ini, dan bagaimana hasil itu berdampak pada masyarakat?” ungkapnya.

Materi kedua disampaikan oleh Zulfatman, yang membahas implementasi kurikulum OBE melalui penguatan metode pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PJBL). Berbagai model yang diterapkan di UMM terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah mahasiswa.

“PBL dan PJBL membuat mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengintegrasikan pengetahuan dalam praktik nyata,” jelasnya.

Pada sesi terakhir, Rina Wahyu Setya Ningrum memaparkan standar kurikulum yang sesuai akreditasi internasional seperti AQUIN dan ASIIN. Rina menekankan bahwa akreditasi internasional bukan hanya persoalan dokumen, tetapi tentang membangun budaya mutu dalam setiap proses akademik.

“Standar internasional adalah komitmen jangka panjang, bukan sekadar pemenuhan administratif,” tegasnya.

Workshop nasional ini diikuti oleh dosen, karyawan, dekan, hingga ketua program studi di lingkungan UM Bima. Diskusi berjalan interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta terkait strategi implementasi OBE di tingkat program studi.

Sebagai tindak lanjut, UM Bima berencana membentuk Tim Pengembang Kurikulum OBE di tingkat fakultas dan prodi. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*