WARTAPTM.ID, MAGETAN — Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) berkolaborasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Magetan untuk memperkuat penanganan persoalan siswa, termasuk perundungan, kekerasan seksual, dan kebutuhan pendampingan psikologis.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui forum diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) yang melibatkan dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial dan Administrasi Kesehatan UMJT di SKB Magetan, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini berangkat dari diskusi awal antara pihak SKB Magetan dan UMJT mengenai persoalan yang dihadapi peserta didik pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C. Peserta didik tersebut memiliki latar belakang sosial dan pengalaman pendidikan yang beragam sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran dan pendampingan yang sesuai.
Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMJT, Qoniah, M.Kesos., menjelaskan bahwa kerja sama bermula ketika pihak SKB Magetan berkunjung ke UMJT untuk membahas berbagai persoalan peserta didik.
“Sebelum digelar FGD, dari UPTD SPNF SKB Magetan datang ke kampus membahas persoalan-persoalan yang ada di sana terkait anak didik di sekolah Paket A, B, C yang berasal dari berbagai macam latar belakang,” jelas Qoniah.
FGD tersebut diikuti para pendidik Paket A, B, dan C serta guru taman kanak-kanak (TK). Pembahasan mencakup penanganan dan pendampingan siswa yang mengalami perundungan maupun kekerasan seksual, pendidikan inklusif, metode pembelajaran, serta identifikasi persoalan psikologis peserta didik.
Dalam forum tersebut, dosen Prodi Kesejahteraan Sosial UMJT, Dr. Wariyatun, membahas strategi penanganan persoalan yang dihadapi siswa, terutama yang berkaitan dengan perundungan dan kekerasan seksual.
Ia juga menilai pendekatan pendidikan inklusif relevan diterapkan di SKB Magetan karena peserta didiknya memiliki latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
“Prinsip-prinsip pendidikan inklusi seperti kesetaraan hak setiap siswa, kurikulum yang fleksibel, kolaborasi dan aksesibilitas bagi siswa ABK dapat meningkatkan rasa percaya diri, kemandirian, dan keterlibatan sosial,” ujar Wariyatun.
Menurutnya, penerapan pendidikan inklusif juga dapat membantu peserta didik memahami keberagaman. Lingkungan belajar yang menghargai perbedaan diharapkan dapat menumbuhkan empati dan toleransi, sekaligus memberi ruang bagi setiap siswa untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan.
Sementara itu, Ketua Program Studi Administrasi Kesehatan UMJT, Lina Alfiyani, M.Kes., menyoroti pentingnya mengenali persoalan psikologis peserta didik sejak dini. Identifikasi tersebut diperlukan agar siswa yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh pendampingan atau tindak lanjut sesuai kebutuhannya.
Lina menjelaskan, sejumlah persoalan yang dapat muncul meliputi rendahnya kepercayaan diri dan benturan peran dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berkaitan dengan latar belakang sosial, ekonomi, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya.
Sebagian peserta pendidikan kesetaraan memiliki riwayat pendidikan formal yang terputus. Karena itu, pemahaman terhadap kondisi psikologis dan latar belakang peserta didik menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan pendekatan pendampingan.
Dalam kesempatan yang sama, Qoniah membawakan materi mengenai gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Pemahaman terhadap variasi cara belajar tersebut diharapkan membantu pendidik menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan siswa.
Qoniah menyampaikan bahwa FGD tersebut menjadi bagian awal dari rangkaian kerja sama UMJT dengan SKB Magetan. Ke depan, kedua pihak merencanakan pelatihan pendidikan inklusif dan pendampingan secara berkala.
“Jadi ini merupakan kegiatan yang selalu berlanjut untuk dosen-dosen UMJT,” ujarnya.
Rencana tindak lanjut tersebut diharapkan membantu pendidik mengembangkan pendekatan yang lebih sesuai dalam menghadapi keberagaman kebutuhan siswa. Penanganan perundungan dan kekerasan seksual, identifikasi persoalan psikologis, serta penguatan pendidikan inklusif memerlukan pemahaman dan koordinasi yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, UMJT berupaya menerapkan keahlian akademik dosen untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan nonformal juga membuka ruang penguatan kapasitas pendidik agar lingkungan belajar semakin aman, inklusif, dan mendukung perkembangan peserta didik.

Be the first to comment