WARTAPTM.ID, PONOROGO – Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) memperluas jejaring akademik internasional melalui partisipasi dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali, Selasa (2/11/2026).
Forum pendidikan tinggi internasional yang mengusung tema “Advancing Education for Purpose and Impact” tersebut mempertemukan lebih dari 1.000 pimpinan perguruan tinggi, pembuat kebijakan, dan perwakilan industri dari berbagai negara. Keikutsertaan UMPO menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas akademik, kolaborasi riset, serta kerja sama internasional.
Wakil Rektor I Bidang Akademik UMPO, Dr. Dian Suluh Kusuma Dewi, M.AP., menilai forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus mendorong peningkatan mutu perguruan tinggi.
Menurutnya, penguatan kualitas pembelajaran, reputasi akademik, dan kompetensi lulusan perlu berjalan seiring dengan pengembangan riset, inovasi, serta perluasan kemitraan nasional dan internasional.
“Dalam konteks pemeringkatan global QS dan uniRank, UMPO berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat reputasi akademik, mengembangkan kompetensi lulusan yang adaptif terhadap teknologi dan dunia kerja, serta memperluas jejaring kerja sama nasional maupun internasional,” ujarnya.
Dian menegaskan, pemeringkatan perguruan tinggi bukan merupakan tujuan akhir, melainkan salah satu instrumen untuk mengevaluasi mutu dan meningkatkan visibilitas institusi di tingkat global. Karena itu, partisipasi dalam forum internasional perlu diikuti langkah nyata untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Dorong Kemitraan dan Kolaborasi Akademik
Kepala Bagian Kerja Sama dan Urusan Internasional (BKUI) UMPO, Dr. Dwi Estiningsih, M.Psi., Psikolog, menyebut forum tersebut sebagai peluang untuk membangun kemitraan strategis di kawasan Asia Pasifik.
Menurutnya, pertemuan dengan berbagai perguruan tinggi dan pemangku kepentingan internasional dapat membuka ruang kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, inovasi, hingga pertukaran akademik.
“Forum ini bukan sekadar ruang untuk memperkenalkan institusi, tetapi juga kesempatan membangun kepercayaan dan kolaborasi nyata dalam pendidikan, penelitian, inovasi, dan pertukaran akademik,” ungkapnya.
Dwi menambahkan, kerja sama pendidikan tinggi kini semakin terbuka melampaui batas geografis dan negara. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi perguruan tinggi daerah, termasuk UMPO, untuk mengambil peran dalam jejaring akademik internasional.
Keikutsertaan UMPO dalam forum tersebut juga merupakan bagian dari agenda internasionalisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA). UMPO hadir bersama 21 PTMA lainnya berdasarkan undangan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Melalui agenda tersebut, setiap PTMA ditargetkan menjajaki kerja sama dengan mitra luar negeri melalui sedikitnya tiga nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), disertai pelaksanaan kegiatan internasional yang konkret.
Target tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi berlanjut menjadi program yang mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, mobilitas akademik, dan penguatan kapasitas perguruan tinggi.
Bagi UMPO, partisipasi dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 menjadi salah satu langkah memperluas jejaring global sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi Muhammadiyah dalam ekosistem pendidikan tinggi internasional.

Be the first to comment