WARTAPTM.ID, DEMAK — Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menggelar edukasi diabetes dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi sekitar 50 warga Dukuh Ronggosari, Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko diabetes, pentingnya deteksi dini, dan upaya mencegah komplikasi.
Program tersebut memadukan edukasi kesehatan, pemeriksaan gula darah dan asam urat, serta diskusi interaktif. Peserta yang didominasi kelompok dewasa dan lanjut usia memperoleh informasi mengenai pengenalan gejala, pola hidup sehat, dan langkah pengendalian diabetes.
Ketua pelaksana kegiatan, Ns. Satriya Pranata, S.Kep., M.Kep., Ph.D., mengatakan kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap kasus warga yang baru mengetahui penyakitnya setelah mengalami komplikasi serius.
Menurut Satriya, diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya, termasuk melalui pemeriksaan secara berkala.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa terlihat sehat belum tentu berarti terbebas dari penyakit. Diabetes bisa berkembang secara perlahan tanpa gejala yang disadari. Jangan sampai seseorang baru mengetahui penyakitnya ketika sudah mengalami komplikasi berat. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting,” ujar Satriya.
Ia menambahkan, kegiatan pengabdian masyarakat merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan kesehatan warga melalui edukasi dan pelayanan yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
Materi kesehatan disampaikan oleh dosen spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, Ns. Prima Trisna Aji, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB. Ia menjelaskan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja insulin.
Prima memaparkan sejumlah faktor risiko diabetes, antara lain riwayat keluarga, kelebihan berat badan, kurangnya aktivitas fisik, serta pola konsumsi makanan dan minuman yang kurang sehat.
Warga juga diajak mengenali gejala yang dapat muncul, seperti sering buang air kecil, mudah haus, cepat lapar, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, luka yang sulit sembuh, dan gangguan penglihatan. Namun, sebagian penderita diabetes tipe 2 tidak menunjukkan gejala yang nyata sehingga pemeriksaan kesehatan tetap penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah yang tinggi. Jika tidak dikendalikan, penyakit ini dapat merusak pembuluh darah, ginjal, jantung, mata, dan saraf. Karena itu, masyarakat perlu mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan sebelum muncul komplikasi,” jelas Prima.
Selain mengenali penyakit, warga memperoleh edukasi mengenai upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melalui pola makan bergizi seimbang, pembatasan konsumsi gula tambahan, aktivitas fisik teratur, serta pengelolaan berat badan.
Bagi warga yang telah didiagnosis diabetes, Prima menekankan pentingnya mengikuti anjuran tenaga kesehatan, memantau gula darah sesuai kebutuhan, dan melakukan perawatan mandiri secara konsisten. Perawatan kaki serta pengenalan tanda kadar gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi juga menjadi bagian dari edukasi.
Pemeriksaan gula darah dan asam urat menjadi bagian dari upaya mendekatkan layanan skrining kesehatan kepada masyarakat. Melalui pemeriksaan tersebut, warga dapat memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kesehatannya dan memahami perlunya tindak lanjut apabila hasilnya memerlukan perhatian.
Tim juga mengingatkan bahwa hasil pemeriksaan gula darah sewaktu tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menetapkan diagnosis diabetes. Warga dengan hasil yang mengindikasikan kemungkinan gangguan kadar gula darah perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menjalani evaluasi lebih lanjut.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim UNIMUS yang terdiri atas Ns. Satriya Pranata, S.Kep., M.Kep., Ph.D., selaku ketua pelaksana, bersama dr. Tri Kartika Setyarini, M.Si.Med., Sp.A., Mahmudah Rahma At Amah, dan Zidni Fauziah. Pelaksanaan edukasi turut melibatkan Prima Trisna Aji sebagai narasumber.
Kolaborasi lintas kompetensi tersebut mengintegrasikan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan awal dalam satu kegiatan. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga didorong untuk lebih mengenali faktor risiko dan mengambil langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan.
Sekitar 50 warga mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–11.30 WIB tersebut. Diskusi berjalan interaktif dengan pertanyaan seputar makanan bagi penderita diabetes, pembatasan konsumsi gula, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika kadar gula darah meningkat.
Narasumber menjawab pertanyaan dengan penjelasan sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Panitia juga menyediakan doorprize untuk peserta, menambah suasana akrab selama kegiatan berlangsung.
Melalui program ini, UNIMUS berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam edukasi dan pencegahan penyakit tidak menular di tingkat komunitas. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan berkala, menerapkan pola hidup sehat, dan mengikuti penanganan medis sesuai anjuran diharapkan dapat membantu masyarakat mengelola risiko diabetes secara lebih baik.

Be the first to comment