WARTAPTM.ID, SABANG — Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) dan Pemerintah Kota Sabang memperkuat kolaborasi pengembangan pariwisata berbasis digital melalui riset dan pengembangan aplikasi JAK LOM. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Pemko Sabang dan Fakultas Ekonomi serta Pascasarjana Unmuha.
Penandatanganan MoA berlangsung dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Optimalisasi PAD melalui Aplikasi JAK LOM dalam Pengembangan Ekosistem Digital Muslim-Friendly Tourism di Aceh” di Aula Wali Kota Sabang, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Penelitian BIMA 2026–2027 dan menjadi FGD pertama dalam rangkaian penelitian pengembangan JAK LOM. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara destinasi wisata, wisatawan, UMKM, akomodasi, kuliner, serta berbagai layanan pendukung pariwisata melalui satu ekosistem digital.
Ketua Peneliti JAK LOM, Surna Lastri, mengatakan pengembangan platform tersebut berangkat dari persoalan belum optimalnya keterhubungan antara aktivitas pariwisata dengan pelaku usaha lokal.
Menurutnya, tingginya kunjungan wisatawan ke Sabang belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keterhubungan wisatawan terhadap berbagai usaha dan layanan yang berada di sekitar destinasi.
“Sepanjang 2025, Kota Sabang mencatat 270.971 kunjungan wisatawan, terdiri atas 262.892 wisatawan nusantara dan 8.079 wisatawan mancanegara, dengan kunjungan wisatawan asing melonjak sekitar 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun wisatawan, destinasi, UMKM, akomodasi, dan kuliner di Sabang masih berjalan sebagai bagian yang terpisah-pisah,” kata Surna.
Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada minimnya potensi wisata Sabang, melainkan belum tersedianya sistem yang mampu menghubungkan wisatawan dengan berbagai potensi ekonomi di sekitar destinasi.
“Digitalisasi kita selama ini masih berhenti di promosi, padahal yang dibutuhkan pelaku usaha adalah akses pasar. Di titik itulah JAKLOM kami posisikan, sebagai ekosistem digital pariwisata, bukan sekadar aplikasi promosi,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan perkembangan pariwisata tidak dapat dilepaskan dari perubahan teknologi dan pola kebutuhan wisatawan.
Menurutnya, transformasi digital perlu dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara destinasi, aktivitas ekonomi masyarakat, dan kebutuhan wisatawan selama berada di Sabang.
“Sabang memiliki potensi wisata yang sangat besar, dan pertumbuhan kunjungan beberapa waktu terakhir sudah terasa dampaknya pada ekonomi masyarakat. Tantangan kami berikutnya adalah memastikan wisatawan yang datang benar-benar terhubung dengan pelaku usaha lokal. Kolaborasi dengan Unmuha melalui JAKLOM kami harapkan bisa memperkuat basis data dan promosi pariwisata Sabang,” ujar Harry.
Dalam FGD tersebut, anggota tim peneliti Mohd Reza Salahuddin dan Haikal Fairuzi Maulana turut memaparkan prototype aplikasi serta arah pengembangan teknologinya. Paparan tersebut disampaikan di hadapan unsur pemerintah daerah, perencana daerah, asosiasi pariwisata, serta pelaku usaha.
Haikal Fairuzi Maulana yang merupakan anggota tim peneliti sekaligus perwakilan Project Manager JAK LOM menjelaskan bahwa platform tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan wisatawan dalam satu ekosistem digital.
“Platform ini menyediakan informasi destinasi dan rute perjalanan yang terintegrasi, direktori UMKM, kuliner halal, dan akomodasi di sekitar destinasi, serta panduan muslim-friendly tourism seperti informasi tempat ibadah dan layanan ramah keluarga,” katanya.
Menurut Haikal, keberadaan platform tersebut diharapkan dapat membantu wisatawan menemukan berbagai usaha lokal yang selama ini belum mudah dijangkau melalui kanal promosi konvensional.
“Selama ini wisatawan datang, menikmati destinasinya, lalu pulang tanpa sempat tahu ada apa saja di sekitarnya. Padahal di sekitar destinasi itu banyak UMKM, kuliner, dan homestay yang layak dikunjungi. JAK LOM kami bangun dan kembangkan dengan tujuan untuk menjembatani itu, agar wisatawan lebih mudah menemukan, dan pelaku usaha lokal punya kanal untuk terlihat,” ujarnya.
Untuk tahap awal, pengembangan JAK LOM difokuskan di Kota Sabang sebelum diarahkan untuk dikembangkan ke wilayah lain. Pengembangan platform dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari rangkaian penelitian BIMA 2026–2027.
Kerangka riset dan arah kajian disusun oleh ketua bersama anggota tim dari kalangan dosen. Sementara pengawasan pengembangan aplikasi berada di bawah tanggung jawab Devi Kumala.
Adapun perancangan alur dan pembangunan aplikasi melibatkan anggota tim pengembang serta mahasiswa. Pola tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses riset dan berinteraksi dengan pemangku kepentingan di daerah.
Haikal mengatakan keterlibatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
“Buat kami sebagai mahasiswa, ini pengalaman yang tidak didapat di ruang kuliah. Produk yang kami bangun diuji langsung oleh dinas, pelaku usaha, dan komunitas, masukannya jujur dan langsung kami catat sebagai kebutuhan fitur,” ujarnya.
Ia mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada mahasiswa untuk menjadi bagian dari tim penelitian sekaligus memperoleh pendampingan selama proses pengembangan JAK LOM.
Be the first to comment