Webinar RisetMu Batch X, Dosen PTMA Dibekali Strategi Menyusun Proposal Fundamental

Webinar RisetMu Batch X, Dosen PTMA Dibekali Strategi Menyusun Proposal Fundamental

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Hibah RisetMu Batch X tidak hanya diarahkan untuk membuka akses pendanaan penelitian bagi dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membangun portofolio dan roadmap riset yang berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Webinar Penyusunan Proposal Penelitian Fundamental Reguler yang digelar Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara daring, Sabtu (22/8/2026). Webinar merupakan bagian dari rangkaian Launching Hibah RisetMu Batch X.

Webinar menghadirkan dua akademisi sekaligus peneliti dari PTMA, yakni Satria Unggul Wicaksana dari Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Reni Sukmawani dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Keduanya membagikan strategi menyusun proposal penelitian fundamental, mulai dari aspek administratif, membangun argumentasi penelitian, menemukan research gap, hingga merancang luaran dan roadmap riset.

Riset Fundamental Jadi Pijakan Portofolio Akademik

Satria Unggul Wicaksana menjelaskan, penelitian fundamental merupakan penelitian dasar yang berada pada Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 1–3. Skema ini dapat dimanfaatkan dosen untuk mengidentifikasi gejala, fenomena, model, maupun postulat baru sebelum penelitian dikembangkan menuju tahap hilirisasi.

Menurutnya, dosen perlu menempatkan hibah penelitian sebagai bagian dari perjalanan akademik, bukan sebagai tujuan akhir.

“Hibah RisetMu ini harus dipandang sebagai trigger atau stimulus pelecut, bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah membangun portofolio riset yang konsisten dan berkelanjutan sesuai dengan peta jalan (roadmap) penelitian institusi kita,” jelas Satria.

Ia mengingatkan pengusul agar tidak mengabaikan aspek administratif. Buku panduan dan template harus menjadi rujukan utama karena kelalaian pada persyaratan administrasi dapat menggugurkan proposal sebelum masuk pada tahap penilaian substansi.

Selain itu, kekuatan proposal ditentukan oleh kemampuan peneliti membangun latar belakang secara logis. Pengusul perlu memulai pembahasan dari konteks makro menuju persoalan yang lebih spesifik, menyajikan kondisi faktual, kemudian menunjukkan kesenjangan penelitian (research gap) yang hendak diisi.

“Jangan sampai proposal kita bagus secara substansi, tetapi gagal karena persoalan administratif. Semua persyaratan harus diperiksa dan dipenuhi sesuai panduan,” pesan Satria.

Satria juga mengingatkan dosen untuk memperhatikan kredibilitas jurnal ketika merancang luaran publikasi, terutama publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Peneliti perlu memastikan jurnal yang dipilih tidak masuk kategori jurnal predator maupun jurnal yang berpotensi mengalami discontinued.

Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), ia juga mendorong dosen memanfaatkan teknologi secara proporsional. Berbagai perangkat AI, termasuk NotebookLM, dapat membantu mempercepat proses membaca dan mengorganisasi literatur. Namun, penggunaannya tetap harus disertai verifikasi dan penilaian kritis dari peneliti.

Proposal Harus Memiliki Alur Argumentasi

Sementara itu, Reni Sukmawani menekankan pentingnya membangun proposal sebagai satu kesatuan argumentasi. Menurutnya, proposal yang kuat tidak tersusun dari kumpulan paragraf yang berdiri sendiri, tetapi memiliki alur yang menghubungkan masalah, bukti, kesenjangan penelitian, pertanyaan penelitian, metode, kebaruan, hingga luaran.

Ia menyarankan pengusul menggunakan pola corong dalam menyusun latar belakang. Peneliti dapat memulai dari persoalan makro, mempersempit pembahasan melalui bukti faktual di tingkat lokal, menjelaskan konsekuensi persoalan, kemudian menunjukkan urgensi penelitian yang akan dilakukan.

“Buatlah ringkasan (abstract) proposal Anda semenarik mungkin seperti sebuah trailer film. Harus memuat urgensi nyata, tujuan, dan luaran konkret dalam batasan maksimal 300 kata sesuai template,” ungkap Reni.

Menurut Reni, salah satu kelemahan yang sering ditemukan dalam proposal adalah penyusunan state of the art yang hanya berupa daftar referensi. Padahal, bagian tersebut seharusnya digunakan untuk menunjukkan posisi penelitian secara jelas.

Peneliti perlu memetakan penelitian terdahulu untuk mengetahui apa yang sudah ditemukan, apa yang masih belum terjawab, dan bagaimana penelitian yang diusulkan mengisi ruang tersebut.

Dengan demikian, research gap tidak sekadar menjadi istilah dalam proposal, tetapi menjadi dasar yang menjelaskan mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.

RisetMu sebagai Tangga Menuju Hibah yang Lebih Besar

Reni juga menekankan pentingnya keberlanjutan penelitian. Proposal RisetMu sebaiknya tidak diposisikan sebagai proyek yang selesai setelah penelitian dan laporan dituntaskan. Sebaliknya, hasil penelitian dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan penelitian lanjutan dan mengakses skema pendanaan yang lebih besar.

Pengalaman tersebut juga dirasakan Reni. Penelitian yang sebelumnya memperoleh pendanaan RisetMu mengenai model prediksi kebutuhan pangan dengan kombinasi ARIMA dan SPM kemudian menjadi pijakan baginya untuk memperoleh hibah penelitian nasional BIMA pada 2026.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konsistensi dalam membangun roadmap penelitian dapat membuka peluang pengembangan riset yang lebih luas.

Karena itu, dosen PTMA didorong mulai merancang penelitian dengan visi jangka panjang. Setiap penelitian yang dilakukan diharapkan memiliki keterhubungan dengan penelitian berikutnya sehingga terbentuk portofolio riset yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam skema RisetMu Batch X, pengusul juga diarahkan untuk mengaitkan penelitian dengan Risalah Islam Berkemajuan (RIB) dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Keterkaitan tersebut menjadi bagian penting untuk memperkuat karakter penelitian yang dikembangkan di lingkungan PTMA. Riset tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga diharapkan mampu menjawab persoalan sosial dan memberikan kontribusi bagi kemaslahatan masyarakat.

Integrasi RIB dan SDGs juga menjadi bagian dari upaya memperluas rekognisi penelitian PTMA di tingkat internasional. Dengan demikian, penelitian yang lahir dari lingkungan Muhammadiyah diharapkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi memiliki relevansi dengan agenda pembangunan dan persoalan kemanusiaan yang lebih luas.

Melalui RisetMu Batch X, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mendorong dosen PTMA membangun tradisi penelitian yang tidak hanya produktif, tetapi juga terarah, kredibel, berkelanjutan, dan berdampak. Hibah penelitian pada akhirnya diharapkan menjadi salah satu pijakan bagi lahirnya ekosistem riset PTMA yang semakin kuat di tingkat nasional maupun internasional.

Be the first to comment

Leave a Reply