Pengajian Awal Tahun UAD: Teguhkan Nilai AIK, Kukuhkan Komitmen Ilmu yang Berdampak

Pengajian Awal Tahun UAD: Teguhkan Nilai AIK, Kukuhkan Komitmen Ilmu yang Berdampak
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Gelar Pengajian Awal Tahun 2026 M (Dok. Humas UAD)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memulai perjalanan akademik tahun 2026 dengan langkah spiritual yang bermakna. Melalui Pengajian Awal Tahun 2026 bertema “Menggapai Keberkahan Ilmu: Aksi dan Doa bagi UAD yang Berdampak”, UAD menegaskan kembali komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026 di Masjid Islamic Center UAD.

Pengajian tersebut menghadirkan Fahruddin Faiz, filsuf Muslim sekaligus penulis kajian filsafat Islam yang dikenal memiliki pemikiran reflektif dan membumi.

Dalam sambutannya, Rahmadi Wibowo Suwarno, dari Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) menegaskan pentingnya memperkuat pengamalan AIK sebagai ruh gerak kampus. Penguatan ini dilakukan melalui berbagai pendekatan yang berkesinambungan, mulai dari peningkatan pemahaman AIK secara sistematis, pelaksanaan pengajian rutin di tingkat universitas maupun unit kerja, hingga penguatan hafalan surat Juz 30 sebagai salah satu bentuk pembiasaan spiritual.

Selain itu, UAD juga mendorong sivitas akademika untuk terlibat aktif dalam kehidupan persyarikatan Muhammadiyah serta mengambil peran dalam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Seluruh upaya tersebut dirancang agar nilai-nilai AIK tidak hanya menjadi simbol identitas. Tetapi benar-benar terimplementasi dalam budaya kerja dan kehidupan kampus sehari-hari.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang AIK, Nur Kholis, berharap momentum awal tahun ini menjadi pintu keberkahan bagi seluruh keluarga besar UAD. Ia mendoakan agar sivitas akademika selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, kelapangan rezeki, serta kekuatan untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam tausiyahnya, Fahruddin Faiz menegaskan bahwa pendidik yang baik bukan hanya mereka yang pandai mengajar, tetapi juga yang terus belajar. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, komitmen untuk terus meningkatkan kualitas diri menjadi keharusan moral sekaligus intelektual.

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, ilmu yang diamalkan membawa tiga tingkatan dampak. Pertama adalah manfaat, ketika ilmu yang dimiliki memberikan kegunaan bagi diri sendiri. Kedua adalah maslahat, ketika ilmu tersebut mampu menghadirkan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Tingkatan tertinggi adalah barokah, yaitu ketika ilmu diridai oleh Allah sehingga kebaikan dan manfaatnya dilipatgandakan.

Menurutnya, ilmu yang penuh keberkahan akan menumbuhkan rasa takut (khosyah) kepada Allah, melahirkan kebijaksanaan (hikmah), serta terus berkembang manfaatnya. Barokah, kata Faiz, hanya dapat diraih melalui kesungguhan dalam berikhtiar, keikhlasan niat, serta akhlak yang baik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*