Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menunjukkan kiprah prestasinya. Dua mahasiswa UAD, Zul Hamdi Batubara dan Riskyana Iswahyuni, berhasil meraih Juara III dalam cabang Short Movie Competition pada ajang Fakip International Edufair 2025 yang digelar di Banda Aceh, 20–24 November 2025 lalu.
Ajang bergengsi yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala ini diikuti peserta dari berbagai negara, antara lain Mesir, Turki, Kirgistan, Yordania, Arab Saudi, Bangladesh, serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi ini menjadi ruang temu gagasan mahasiswa lintas bangsa dalam bidang pendidikan, kreativitas, dan isu sosial.
Melalui film pendek berjudul “Suara Nadia”, tim UAD mengangkat tema kesetaraan gender dengan fokus pada persoalan pernikahan dini dan perjodohan, yang masih kerap terjadi di sejumlah wilayah pedesaan. Film tersebut merefleksikan realitas sosial yang menempatkan anak—terutama perempuan—pada posisi rentan, sekaligus menghadirkan pesan tentang pentingnya akses pendidikan dan kebebasan meraih cita-cita.
Zul Hamdi Batubara menjelaskan bahwa karya ini lahir dari kegelisahan terhadap tingginya kasus pernikahan dini. Menurutnya, praktik tersebut kerap dijadikan jalan pintas untuk mengatasi persoalan ekonomi, padahal justru berpotensi memutus masa depan anak.
“Ide film ini berangkat dari realitas sosial yang masih sering kita temui. Kami ingin menyuarakan isu pernikahan dini melalui medium film pendek agar pesannya lebih mudah diterima masyarakat,” ujarnya.
“Suara Nadia” mengisahkan seorang remaja perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya karena keterbatasan ekonomi. Alih-alih menyerah, tokoh utama memilih berjuang dengan menempuh berbagai aktivitas positif hingga akhirnya berhasil memperoleh beasiswa dan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi ternama. Alur cerita tersebut menegaskan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan pembebasan dari lingkaran ketidakadilan sosial.
Karya ini mendapat apresiasi dewan juri karena dinilai mampu menyampaikan pesan sosial secara kuat, reflektif, dan relevan dengan konteks masyarakat saat ini. Film tersebut juga dipandang efektif sebagai media edukasi publik, khususnya dalam menyuarakan dampak jangka panjang pernikahan dini terhadap masa depan generasi muda.
Melalui pencapaian ini, tim berharap pesan yang disampaikan tidak berhenti pada kompetisi semata, tetapi mampu mendorong kesadaran sosial yang lebih luas.
“Kami berharap setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak dan kesempatan yang setara untuk bermimpi dan meraih cita-cita. Pernikahan dini dan perjodohan bukan solusi atas kemiskinan,” pungkas Zul.
Be the first to comment