Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar perkembangan teknologi, melainkan perubahan mendasar yang sedang membentuk ulang lanskap pendidikan global. Bagi Muhammadiyah, setiap perubahan zaman selalu menghadirkan dua hal sekaligus: tantangan dan peluang tajdid. Di titik inilah perguruan tinggi Muhammadiyah ’Aisyiyah (PTMA) dituntut membaca arah zaman dengan cermat dan meresponsnya secara visioner.
Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengangkat tema “Rancang Bangun PTMA Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan” dalam Kajian Kamisan ke-25 yang disiarkan melalui kanal YouTube Majelis Diktilitbang, pada Kamis (26/2/2026.) Pemaparan disampaikan oleh Ismail Fahmi yang merupakan Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. Ia menekankan pentingnya transformasi terarah agar PTMA tetap relevan, unggul, dan berdaya saing global.
Urgensi Transformasi
Saat ini, PTMA berjumlah 163 institusi (per-Februari 2026) yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan ratusan ribu mahasiswa dan puluhan ribu dosen. Jaringan besar ini merupakan kekuatan strategis. Namun, di tengah percepatan teknologi digital, skala yang besar tidak otomatis menjamin kesiapan.
Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat cepat. Sejumlah universitas riset global seperti MIT, Stanford University, dan Harvard University telah menempatkan literasi AI sebagai kompetensi dasar lintas disiplin. Mahasiswa dari berbagai bidang didorong memahami cara kerja, etika, dan pemanfaatan AI dalam keilmuannya masing-masing.
“Di kampus-kampus tersebut, mahasiswa dari jurusan apa pun didorong memahami AI. Bukan untuk menjadi programmer semua, tetapi agar mampu memanfaatkan teknologi ini secara kritis dan etis,” ujarnya.
Menurutnya, jika PTMA tetap bertahan dengan model pembelajaran konvensional tanpa integrasi AI, maka kesenjangan kompetensi lulusan akan semakin lebar dibanding kebutuhan dunia kerja dan riset global.
AI sebagai Instrumen Keilmuan dan Dakwah
Dalam pemaparannya, Ismail Fahmi juga mencontohkan pemanfaatan AI dalam konteks internal Muhammadiyah, termasuk dalam merespons dinamika publik terkait kebijakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
AI dirancang sebagai agen berbasis model bahasa yang diberi rujukan resmi dari Majelis Tarjih. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat membantu menyusun respons argumentatif berbasis literatur dan metodologi keislaman. Pengalaman ini menunjukkan bahwa AI, jika diposisikan secara tepat, dapat menjadi instrumen pendukung kerja keilmuan Islam—bukan pengganti otoritas ulama, melainkan alat bantu analisis dan penguatan literasi publik.
“AI tidak menggantikan otoritas keilmuan. Ia hanya alat. Yang menentukan tetap manusia, dengan tanggung jawab moral dan metodologi ilmiah yang benar,” ujar Fahmi.
Di sinilah terbuka ruang bagi pengembangan Islamic AI Research, termasuk dalam bidang hisab, fikih kontemporer, hingga diseminasi fatwa yang lebih sistematis dan berbasis data.
Enam Pilar PTMA AI-Ready
Dalam paparannya, Ismail Fahmi merumuskan enam pilar transformasi menuju PTMA yang siap menghadapi era AI.
1. Kurikulum Terintegrasi AI
Literasi dan pemanfaatan AI perlu diintegrasikan dalam seluruh program studi. Model pembelajaran bergeser menuju project-based learning, dengan penekanan pada kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan etis—kompetensi yang melampaui kemampuan mesin.
2. Penguatan Kapasitas SDM Digital
Peran dosen berkembang dari sekadar penyampai materi menjadi perancang pembelajaran dan mentor. Program pelatihan, sertifikasi global, serta pengembangan AI Champions di lingkungan kampus menjadi langkah strategis.
3. Infrastruktur Digital Terpadu
Pengembangan PTMA Cloud dan Learning Management System (LMS) bersama menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan fasilitas antar-kampus. Kolaborasi ini memungkinkan efisiensi biaya sekaligus pemerataan akses teknologi.
4. Riset dan Inovasi AI
Pembentukan jejaring laboratorium AI antar-PTMA perlu diarahkan pada riset terapan yang bermitra dengan industri, sekaligus membuka ruang riset AI bernuansa nilai Islam.
5. Tata Kelola dan Etika AI
Setiap PTMA perlu merumuskan kerangka etika penggunaan AI, menjaga integritas akademik, serta memastikan perlindungan data. Standar tata kelola yang baik akan meningkatkan kepercayaan publik dan mitra strategis.
6. Nilai Islam Berkemajuan
Inilah pembeda utama PTMA. Pengembangan AI harus berlandaskan tauhid, menjunjung amanah, keadilan, dan kemaslahatan. PTMA memiliki peluang memimpin wacana ethical AI dari perspektif Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Inilah pembeda kita. AI di PTMA tidak boleh bebas nilai. Ia harus diarahkan untuk kemaslahatan dan rahmatan lil ‘alamin,” tegas Fahmi.
Peta Jalan dan Langkah Awal
Ismail Fahmi mendorong pembentukan AI Task Force di setiap PTMA sebagai langkah awal yang konkret.
“Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Mulailah dengan pilot project. Dari situ kita belajar dan menyempurnakan.”
Program seperti chatbot layanan akademik, tutor adaptif berbasis AI, dan sistem penilaian otomatis dapat menjadi langkah cepat yang realistis.
Menurutnya, transformasi ini bukan semata persoalan teknologi, melainkan soal keberanian mengambil keputusan.
“Kalau kita ingin PTMA tetap relevan pada 2030 dan seterusnya, maka keputusan strategis harus diambil hari ini.”
Sebagaimana firman Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 11, perubahan tidak akan terjadi tanpa ikhtiar kolektif. Di tengah arus disrupsi teknologi, PTMA ditantang meneguhkan jati diri sebagai kampus Islam berkemajuan—Islami, digital, dan berdaya saing global.
Be the first to comment