Prof Zulfahmi Alwi: Ramadan Momentum Memperdalam Pemahaman Agama

Prof Zulfahmi Alwi Ramadan Momentum Memperdalam Pemahaman Agama
Prof Zulfahmi Alwi Ramadan Momentum Memperdalam Pemahaman Agama

Di hadapan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Prof. Zulfahmi Alwi menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga momentum untuk memperdalam cara umat memahami ajaran Islam.

Pesan tersebut disampaikannya dalam tausiyah jelang buka puasa pada kegiatan silaturahim dan buka puasa bersama keluarga besar Unismuh Makassar yang digelar di Balai Sidang kampus tersebut, Senin (9/3/2026).

Ketua Majelis Tarjih PWM Sulawesi Selatan itu memulai ceramahnya dengan mengajak jamaah mensyukuri kesempatan kembali dipertemukan dengan Ramadan.

“Kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Tidak sedikit saudara, kerabat, atau kolega kita yang pada tahun lalu masih bersama-sama berpuasa dan salat tarawih, tetapi kini sudah tidak bersama kita lagi,” ujarnya.

Menurutnya, rasa syukur tersebut harus diiringi dengan kesungguhan untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam.

Perbedaan Lahir dari Cara Memahami

Dalam ceramahnya, Zulfahmi juga menyoroti fenomena beragamnya pandangan keagamaan di tengah masyarakat Muslim. Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut bukan disebabkan oleh perbedaan sumber ajaran, melainkan oleh cara memahami teks-teks keagamaan.

“Sumber ajaran Islam itu jelas, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi. Tetapi dalam praktiknya, umat Islam sering memiliki pandangan yang berbeda-beda. Kalau berbeda masih wajar, tetapi ada yang sampai bertentangan,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah perdebatan yang kerap muncul di masyarakat, mulai dari persoalan simbol keagamaan hingga praktik tertentu yang dipahami secara berbeda oleh kelompok umat Islam.

Menurutnya, keragaman pandangan tersebut muncul karena proses penafsiran terhadap ajaran agama tidak selalu sama.

Al-Qur’an Menyampaikan Nilai Dasar

Zulfahmi menjelaskan bahwa banyak ayat dalam Al-Qur’an berbicara dalam bentuk prinsip atau nilai dasar, bukan petunjuk teknis yang rinci.

“Ada ayat yang setelah dibaca langsung jelas maksudnya. Tetapi banyak juga ayat yang kebenarannya bersifat interpretatif, sehingga perlu dianalisis dan dipahami lebih dalam,” ujarnya.

Karena itu, Al-Qur’an lebih banyak menegaskan nilai-nilai fundamental seperti keadilan, persatuan, dan perlindungan terhadap kelompok lemah, sementara cara penerapannya dalam kehidupan sosial berkembang sesuai dengan konteks zaman.

“Apa artinya sebuah negara disebut negara Islam jika keadilan tidak ditegakkan?” katanya.

Pentingnya Wawasan dan Pendidikan

Selain faktor penafsiran teks, Zulfahmi menilai cara pandang seseorang juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan keluasan wawasan.

Menurutnya, individu dengan wawasan yang luas cenderung lebih bijak dalam memahami ajaran agama, sementara keterbatasan pengetahuan dapat melahirkan pandangan yang sempit.

“Orang yang wawasannya luas biasanya berbicara lebih bijaksana. Sebaliknya, jika bacaannya terbatas dan pengetahuannya sempit, pandangannya juga bisa menjadi sempit,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan agama yang sehat dan berbasis ilmu, terutama bagi generasi muda. Orang tua, menurutnya, memiliki peran penting untuk memastikan anak-anak memperoleh pemahaman Islam yang benar sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran yang menyimpang.

Pada bagian akhir ceramahnya, Zulfahmi mengaitkan pesannya dengan wahyu pertama dalam Islam, yaitu perintah Iqra’ atau membaca.

Baginya, perintah tersebut tidak hanya bermakna membaca secara literal, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya peradaban yang maju melalui ilmu pengetahuan.

“Untuk membangun peradaban yang berkemajuan, semuanya harus dimulai dengan iqra, membaca dan belajar. Kapan manusia berhenti belajar? Saat dia akan mati,” ungkapnya.

Melalui pesan tersebut, Zulfahmi mengingatkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi bulan pembinaan spiritual. Tetapi juga momentum untuk memperkuat dimensi intelektual umat.

Dengan keseimbangan antara ibadah, ilmu, dan kedewasaan berpikir, Ramadan diharapkan mampu melahirkan pribadi yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga matang secara intelektual serta bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*