WARTAPTM.ID, TASIKMALAYA — Upaya mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat kembali ditunjukkan melalui kolaborasi lintas negara yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS), Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), dan Universiti Malaysia Terengganu (UMT).
Melalui program International Community Services, ketiga perguruan tinggi tersebut menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat di kawasan Bening Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (11/4). Program ini berfokus pada pengelolaan limbah berbasis circular economy sebagai bagian dari upaya mewujudkan sustainability di tingkat komunitas.
Kegiatan ini turut melibatkan mitra lokal, Bening Saguling Foundation, serta partisipasi aktif dosen dan mahasiswa dari masing-masing institusi.
Inovasi: Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai
Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah pengolahan limbah plastik menjadi produk triplek daur ulang. Inisiatif ini hadir sebagai solusi atas meningkatnya volume sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai diolah kembali menjadi material yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Proses pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pencacahan, pemanasan hingga plastik melebur, hingga pencetakan menjadi lembaran menyerupai triplek.
Produk yang dihasilkan memiliki sejumlah keunggulan, seperti tahan air, cukup kuat untuk penggunaan tertentu, serta lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan baku limbah.
Transfer Pengetahuan dan Dampak Ekonomi
Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menjadi ruang transfer pengetahuan bagi masyarakat. Warga dilibatkan secara langsung dalam proses produksi, sehingga memperoleh keterampilan baru dalam pengelolaan limbah.
Dari pelaksanaan program, puluhan kilogram sampah plastik berhasil diolah menjadi beberapa unit triplek yang siap digunakan. Dampaknya tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
Produk triplek daur ulang ini berpotensi dikembangkan sebagai komoditas bernilai jual, sekaligus mendorong lahirnya usaha berbasis lingkungan di tingkat masyarakat.
Ketua KKUI, Aceng Sambas, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjawab isu lingkungan global.
“Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi internasional dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, pihak Bening Saguling Foundation menyambut baik program tersebut karena dinilai memberikan manfaat konkret.
“Kami sangat terbantu dengan adanya program ini, karena tidak hanya memberikan solusi pengolahan limbah, tetapi juga membuka wawasan dan peluang usaha baru bagi masyarakat,” ungkap perwakilan yayasan.
Melalui program ini, kolaborasi UMTAS bersama mitra nasional dan internasional menunjukkan bahwa konsep keberlanjutan tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat.
Pendekatan berbasis komunitas yang dikombinasikan dengan inovasi teknologi sederhana diharapkan mampu menjadi model pengelolaan limbah yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain.
Be the first to comment