WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menambah jajaran guru besar melalui pengukuhan Rika Astari dalam bidang bahasa dan media. Pengukuhan tersebut berlangsung pada 18 April 2026 di Amphitarium Kampus IV UAD.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Komodifikasi Bahasa Religi Islam pada Media di Era Digital, Prof. Rika menyoroti perubahan fungsi bahasa religi yang kini tidak hanya berperan sebagai medium spiritual, tetapi juga dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan ekonomi di ruang digital.
Menurutnya, bahasa memiliki peran strategis tidak hanya dalam menyampaikan pesan, tetapi juga dalam membentuk persepsi serta nilai di tengah masyarakat. Dalam konteks media digital, bahasa bahkan menjadi bagian dari strategi komunikasi dan pemasaran.
“Bahasa tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu fenomena,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa fenomena komodifikasi bahasa religi dapat ditemukan di berbagai sektor, mulai dari industri film hingga produk komersial dan layanan digital. Penggunaan istilah atau simbol religius kerap dimanfaatkan untuk memperkuat daya tarik sekaligus membangun kepercayaan publik.
Prof. Rika mengidentifikasi bahwa komodifikasi bahasa religi memiliki dua sisi. Di satu sisi, praktik ini dapat menjadi sarana syiar yang efektif, seperti melalui film atau produk bertema keislaman yang mampu memperkuat identitas religius masyarakat.
Namun, di sisi lain, penggunaan bahasa religi yang berorientasi komersial berpotensi mengurangi makna substansial nilai agama.
“Penggunaan bahasa religi yang tidak proporsional dapat menggeser nilai-nilai keagamaan menjadi sekadar alat komersial,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa praktik tersebut dapat memunculkan implikasi sosial, termasuk potensi kesenjangan ekonomi dan perubahan persepsi terhadap nilai keagamaan.
Sebagai respons atas fenomena tersebut, Prof. Rika menekankan pentingnya penguatan literasi bahasa dan literasi digital di tengah masyarakat. Hal ini dinilai penting agar publik mampu memahami konteks penggunaan bahasa religi secara kritis.
Selain itu, ia juga mendorong adanya pedoman etika komunikasi, khususnya bagi pelaku industri kreatif, agar penggunaan bahasa religi tetap menghormati nilai teologis dan tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rika menyampaikan bahwa pencapaian sebagai guru besar merupakan hasil dari dukungan berbagai pihak, baik keluarga maupun sivitas akademika.
“Capaian ini merupakan capaian bersama, hasil dari dukungan keluarga, kolega, dan lingkungan akademik,” ujarnya.
Pengukuhan ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Ahmad Dahlan dalam memperkuat kontribusi keilmuan, khususnya dalam kajian bahasa dan media di era digital.
Be the first to comment