Opini | Oleh: Agung Rezki – Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Di era disrupsi digital, manusia tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi perlahan mulai dikendalikan olehnya. Realitas bergeser menjadi sekadar tampilan layar, sementara nilai-nilai kemanusiaan kian terpinggirkan di tengah arus informasi yang tak terbendung.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah peradaban. Setiap kemajuan teknologi selalu diiringi kecemasan. Saat mesin cetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15, otoritas keagamaan di Eropa merasa terancam. Ketika kereta api mulai beroperasi pada abad ke-19, sebagian kalangan menolaknya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai spiritual. Bahkan televisi pernah dianggap sebagai ancaman moral, sebagaimana hari ini media sosial dan platform digital memicu kekhawatiran serupa.
Namun, sebagaimana disampaikan Fakhruddin Faiz dalam NUSAIFEST KPI UMY 2026, yang berubah bukanlah pola penolakan terhadap teknologi, melainkan kedalaman dampaknya terhadap kehidupan manusia. Di era digital, pengaruh tersebut tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga merasuk ke dimensi psikologis, sosial, dan budaya.
Fenomena ini melahirkan sejumlah persoalan mendasar yang saling berkaitan dan membentuk lingkaran krisis kemanusiaan.
Pertama, dominasi imajinasi atas realitas. Dunia digital membuat manusia lebih akrab dengan representasi daripada kenyataan. Informasi yang dikonsumsi melalui layar kerap menggantikan pengalaman langsung. Dalam perspektif Jean Baudrillard, kondisi ini disebut sebagai era simulakra—ketika batas antara realitas dan representasi menjadi kabur. Ironisnya, paparan berulang terhadap konten kemiskinan, bencana, atau ketidakadilan justru dapat menumpulkan empati. Manusia melihat, tetapi tidak lagi benar-benar merasakan.
Kedua, hadir tanpa makna (presence without meaning). Banyak aktivitas dilakukan sekadar sebagai formalitas atau pencitraan. Mahasiswa hadir di kelas tanpa kesungguhan belajar, sementara interaksi di media sosial lebih didorong oleh keinginan untuk terlihat aktif daripada memahami substansi. Kehadiran kehilangan makna, karena tidak disertai kesadaran dan tujuan.
Ketiga, keyakinan menggantikan pemahaman (belief over understanding). Ekosistem digital mendorong individu untuk lebih mempercayai apa yang sesuai dengan pandangannya daripada mencari kebenaran yang objektif. Fenomena filter bubble, sebagaimana diingatkan Eli Pariser, membuat seseorang terjebak dalam ruang informasi yang sempit dan seragam. Akibatnya, dialog rasional tergantikan oleh pembenaran sepihak.
Keempat, kecepatan menggantikan kualitas (speed over quality). Dunia digital memuja kecepatan—informasi harus cepat, respons harus instan, dan hasil harus segera terlihat. Dalam konteks pendidikan, hal ini tercermin pada kecenderungan mencari jalan pintas, termasuk mengandalkan teknologi tanpa melalui proses belajar yang utuh. Padahal, seperti diingatkan Viktor Frankl, makna hidup justru lahir dari proses dan perjuangan, bukan dari kemudahan yang instan.
Menghadapi situasi tersebut, kearifan Nusantara menawarkan jalan penyeimbang. Nilai-nilai seperti gotong royong, tepo seliro, dan mawas diri bukan sekadar warisan budaya, tetapi fondasi etis untuk menjaga kewarasan manusia di tengah disrupsi.
Gotong royong menegaskan bahwa kehadiran harus diwujudkan dalam kontribusi nyata, bukan sekadar simbolik. Tepo seliro mengajarkan empati dan kesadaran terhadap dampak tindakan, sebagai penawar budaya reaktif di media sosial. Sementara mawas diri mendorong refleksi kritis terhadap keyakinan yang dimiliki, sehingga manusia tidak terjebak dalam ilusi kebenaran semu.
Dalam konteks ini, teknologi bukanlah musuh. Persoalannya terletak pada bagaimana manusia memposisikan diri. Seperti disampaikan Ustadz Fakhruddin Faiz, “Teknologi bukan musuh, tetapi manusia harus tetap menjadi subjek, bukan objek dari perubahan.”
Kearifan Nusantara tidak menolak kemajuan, tetapi memastikan bahwa kemajuan tetap berpijak pada nilai. Ia menjadi penyeimbang kultural agar manusia tidak kehilangan arah di tengah kecepatan dan viralitas.
Pada akhirnya, tantangan terbesar era digital bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan kemampuan manusia untuk tetap menjadi manusia. Sebab tanpa nilai, teknologi hanya akan mempercepat kehampaan. Dan tanpa kesadaran, kemajuan justru dapat menjauhkan manusia dari makna hidup yang sesungguhnya.
Be the first to comment