WARTAPTM.ID, BANDUNG — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat pendekatan pembelajaran berbasis praktik dengan menghadirkan Mini Teaching Factory Food Industry di lingkungan kampus. Fasilitas ini menjadi ruang baru bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung terlibat dalam proses produksi pangan secara nyata.
Peresmian fasilitas tersebut berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, di area rubanah belakang gedung kampus UM Bandung di Jalan Soekarno-Hatta. Sejumlah pimpinan kampus, mulai dari rektor hingga jajaran fakultas, turut hadir dalam peluncuran yang menjadi tonggak penguatan pendidikan berbasis industri ini.
Ketua Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung, Khairiah, menjelaskan bahwa Mini Teaching Factory dirancang sebagai laboratorium produksi yang terintegrasi. Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa dan dosen mengembangkan produk pangan dari tahap riset hingga produksi.
“Tempat ini menjadi salah satu laboratorium produksi untuk pengembangan berbagai produk pangan berbasis inovasi,” ujarnya, Jumat (19/06).
Tidak berhenti sebagai ruang praktik, fasilitas ini juga berfungsi sebagai etalase inovasi. Produk-produk hasil karya mahasiswa akan dikurasi untuk menentukan mana yang memiliki potensi dikembangkan lebih lanjut sebagai produk unggulan, bahkan hingga tahap komersialisasi.
Langkah ini mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung, Arief Yunan. Ia menilai kehadiran Mini Teaching Factory mampu menjembatani kesenjangan antara pembelajaran di kelas dengan kebutuhan dunia industri.
“Saya berharap fasilitas ini dapat mendorong lahirnya produk-produk unggulan yang mampu memperkuat posisi UM Bandung,” kata Arief.
Rektor UM Bandung, Herry Suhardiyanto, menegaskan bahwa teaching factory menjadi elemen penting dalam menciptakan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata agar siap menghadapi tantangan dunia kerja.
“Melalui teaching factory ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya secara langsung dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar konsep serupa dapat dikembangkan oleh program studi lain di lingkungan kampus. Dengan demikian, setiap bidang keilmuan memiliki ruang implementasi yang konkret melalui teaching industry atau teaching company.
Lebih jauh, Herry menjelaskan bahwa Mini Teaching Factory memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang terintegrasi. Proses pembelajaran, penelitian, hingga inovasi produk diarahkan untuk saling terhubung dan berujung pada nilai ekonomi yang nyata.
“Pendidikan, riset, dan inovasi akan berjalan beriringan hingga menghasilkan produk yang bisa dikomersialisasikan, dan hasilnya kembali memperkuat kualitas pembelajaran,” paparnya.
Dengan hadirnya fasilitas ini, UM Bandung tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan di bidang teknologi pangan, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Mini Teaching Factory menjadi bukti bahwa kampus tidak lagi sekadar ruang belajar, melainkan juga ruang produksi, inovasi, dan pengembangan solusi nyata berbasis ilmu pengetahuan.
Be the first to comment