WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan bahwa hakikat dari transformasi perguruan tinggi bukan sekadar perubahan fisik, melainkan transformasi pola pikir (mindset transformation). Menurutnya, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana membangun pola pikir berkemajuan di seluruh elemen institusi.
Hal tersebut disampaikan Fauzan dalam acara Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Selasa (14/7/2026). Fauzan menekankan bahwa untuk menjadi besar, sebuah institusi harus bermula dari hal kecil yang didorong oleh semangat progresif.
“Jangan pernah mengeluh karena kampus masih kecil. Kampus besar tumbuh dari pola pikir pimpinan yang ingin maju,” tegasnya Fauzan.
Dalam paparannya, Fauzan menyoroti pentingnya stabilitas internal sebagai fondasi pertumbuhan. Ia mengingatkan bahwa konflik internal di perguruan tinggi swasta selalu bersifat destruktif dan menghambat ekspansi,. Kunci keberhasilan institusi, menurutnya, terletak pada kemampuan pimpinan untuk melakukan konsolidasi atau “merapatkan saf”.
“Konsolidasi adalah persiapan sebelum melakukan ekspansi peperangan. Seorang pimpinan harus memastikan barisannya rapat dan kuat sebelum melangkah jauh ke luar,” ujarnya mengutip filosofi kepemimpinan di Muhammadiyah.
Lebih lanjut, Fauzan juga mendorong PTMA untuk menghadirkan kepastian nyata bagi mahasiswa dan orang tua sebagai bentuk tanggung jawab institusi.
Pertama, kepastian lulus. Kampus perlu mendesain sistem agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu, sekitar 3,5 hingga 4 tahun, termasuk melalui kebijakan ekivalensi prestasi.
Kedua, kepastian kerja. Kurikulum harus selaras dengan kebutuhan industri, salah satunya melalui pengembangan Center of Excellence (CoE) berbasis program studi yang relevan dan aplikatif.
“Mahasiswa harus punya kepastian masa depan. Lulus tepat waktu dan punya peluang kerja yang jelas,” jelasnya.
Terkait regulasi, Fauzan mengajak pimpinan PTMA untuk berani melakukan inovasi dan tidak terjebak pada aturan yang bersifat administratif semata. Ia berpendapat bahwa aturan seringkali dibuat hanya untuk ketertiban, namun kemajuan membutuhkan terobosan kreatif.
“Perlu keberanian melakukan terobosan. Jangan hanya menunggu aturan, tapi ciptakan inovasi untuk melampauinya,” tuturnya.
Menutup paparannya, Fauzan mengingatkan agar pengelolaan kampus tidak kering dari nilai-nilai kemanusiaan (humanisme). Ia mendorong pimpinan untuk lebih sering memberikan apresiasi langsung kepada mahasiswa berprestasi dan menjalin komunikasi yang hangat dengan orang tua mahasiswa, misalnya melalui pengiriman surat penghargaan resmi,,.
“Jadikan kampus sebagai pusat pengabaran yang baik. Suasana komunikasi yang nyaman dan menghargai prestasi akan membangun ketahanan institusi yang luar biasa,” pungkasnya.
Be the first to comment