Bukan Sekadar Menenangkan Anak, Dosen UM Bandung Ajak Orang Tua Bangun Regulasi Emosi Sejak Dini

Bukan Sekadar Menenangkan Anak, Dosen UM Bandung Ajak Orang Tua Bangun Regulasi Emosi Sejak Dini

WARTAPTM.ID, BANDUNG – Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Bandung, Dr. Esty Fatinisna, mengingatkan pentingnya memahami tantrum anak sebagai bagian dari proses tumbuh kembang, bukan sekadar perilaku yang harus dihentikan.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam Seminar Hari Anak Nasional bertajuk “Menyikapi Perilaku Tantrum Anak di Era Digital” yang digelar pada Senin (27/07/2026).

Menurut Esty, banyak orang tua masih keliru memaknai tantrum sebagai bentuk kenakalan atau kurangnya disiplin. Padahal, di balik ledakan emosi tersebut, terdapat proses perkembangan otak anak yang belum matang dan membutuhkan respons yang tepat.

“Tantrum bukan sekadar perilaku yang harus dihentikan. Itu adalah sinyal bahwa anak sedang belajar mengenali dan mengekspresikan emosinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada usia dua hingga tiga tahun, anak memang belum memiliki kemampuan regulasi emosi dan komunikasi verbal yang optimal. Karena itu, tantrum menjadi hal yang wajar terjadi pada fase tersebut.

Namun demikian, Esty mengingatkan agar orang tua tetap waspada jika tantrum berlangsung terlalu lama, terjadi secara berulang dengan intensitas tinggi pada usia yang lebih besar, atau sampai melukai diri sendiri maupun orang lain.

Dari perspektif neurosains, ia memaparkan bahwa saat anak mengalami tantrum, amigdala—bagian otak yang mengatur emosi—bekerja lebih dominan dibandingkan korteks prefrontal yang berperan dalam logika dan pengambilan keputusan.

“Dalam kondisi ini, anak belum mampu berpikir rasional. Maka, memarahi atau menghukum justru tidak akan menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Tantangan Generasi Alpha

Lebih lanjut, Esty menyoroti bahwa perkembangan teknologi turut membawa tantangan baru dalam pengasuhan anak, khususnya bagi Generasi Alpha yang tumbuh di tengah paparan digital sejak dini.

Ia menilai, penggunaan gawai yang tidak terkontrol berpotensi mengurangi interaksi sosial anak, sehingga berdampak pada kemampuan komunikasi, empati, dan pengendalian emosi.

“Anak-anak sekarang sangat cepat belajar secara visual, tetapi tanpa pendampingan yang tepat, mereka juga berisiko mengalami ketergantungan pada teknologi dan penurunan empati,” ungkapnya.

Menurutnya, usia nol hingga enam tahun merupakan masa emas perkembangan otak. Pada fase ini, setiap pengalaman anak akan membentuk fondasi penting bagi kemampuan belajar, perilaku, dan regulasi emosi di masa depan.

Karena itu, kualitas interaksi antara orang tua dan anak menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar memberikan akses teknologi.

Dalam praktik pengasuhan, Esty mengajak orang tua untuk menerapkan pola asuh yang hangat sekaligus tegas. Ia menyebut, orang tua memiliki peran strategis sebagai “arsitek perkembangan” anak.

“Orang tua perlu hadir secara emosional, membangun komunikasi yang positif, menetapkan batasan yang konsisten, serta menjadi teladan, termasuk dalam penggunaan teknologi,” tuturnya.

Ia menambahkan, pendekatan otoritatif atau demokratis dinilai lebih efektif dibandingkan pola asuh yang terlalu keras maupun permisif.

Selain itu, Esty juga memperkenalkan tiga pilar utama dalam digital parenting, yakni membatasi penggunaan layar secara terstruktur, mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital, serta memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga belajar empati, kontrol diri, dan kemampuan sosial,” jelasnya.

Esty menegaskan, kunci utama dalam menghadapi tantrum adalah ketenangan dan empati orang tua. Ia mengajak orang tua untuk tidak reaktif, tetapi hadir sebagai pendamping yang membantu anak memahami emosinya.

“Saat anak tantrum, tetaplah tenang. Kenali penyebabnya, validasi perasaannya, lalu bantu anak menenangkan diri sebelum diajak mencari solusi,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan yang penuh empati akan membantu anak belajar mengelola emosi secara bertahap dan membentuk karakter yang lebih matang di masa depan.

Aktivitas Fisik dan Keseimbangan Tumbuh Kembang

Di sisi lain, Esty juga menekankan pentingnya aktivitas fisik sebagai penyeimbang perkembangan anak. Bermain di luar ruangan, berolahraga, serta berinteraksi langsung dengan lingkungan menjadi cara alami untuk melatih fokus dan regulasi emosi.

Ia mengingatkan, keberhasilan pengasuhan di era digital tidak ditentukan oleh seberapa cepat anak menguasai teknologi, melainkan sejauh mana keluarga mampu menjaga keseimbangan antara teknologi, interaksi sosial, dan kedekatan emosional.

“Teknologi bisa menjadi sarana belajar yang baik, tetapi harus diimbangi dengan interaksi nyata dan kelekatan emosional dalam keluarga,” pungkasnya.

Sebagai bagian dari kontribusi pendidikan, Prodi PIAUD UM Bandung terus menghadirkan pembelajaran yang memadukan nilai keislaman, psikologi perkembangan, neurosains, serta pemanfaatan teknologi.

Mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan praktis untuk menjadi pendidik anak usia dini yang profesional, kreatif, dan berkarakter Islami.

Didukung berbagai program akademik, kolaborasi dengan praktisi, serta fasilitas seperti labschool, PIAUD UM Bandung berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital.

Be the first to comment

Leave a Reply