WARTAPTM.ID, GROBOGAN — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menghadirkan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan. Inovasi tersebut menjadi upaya mahasiswa membantu petani mencari alternatif pengendalian hama tikus dengan memanfaatkan predator alami.
Program yang digagas Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15 ini berangkat dari persoalan yang ditemukan mahasiswa selama berada di tengah masyarakat. Gangguan hama tikus menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani di kawasan persawahan Desa Sukorejo.
Alih-alih mengandalkan pendekatan pengendalian hama secara konvensional, mahasiswa mencoba memanfaatkan keseimbangan ekosistem dengan menyediakan tempat bagi burung hantu sebagai predator alami tikus.
Program tersebut dilaksanakan selama masa KKN, 29 Juli–27 Agustus 2026, dengan dukungan Pemerintah Desa Sukorejo di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sriyono.
Ketua Kelompok 13 KKN Unimus, Khairul Umam, mengatakan program RUBUHA dirancang agar kegiatan KKN tidak berhenti pada pelaksanaan program kerja, tetapi meninggalkan sesuatu yang dapat dikembangkan masyarakat.
“Kami tidak ingin KKN hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan. Kami ingin ada sesuatu yang tetap dapat dimanfaatkan masyarakat setelah kami kembali ke kampus. Dari komunikasi dan pengamatan selama berada di desa, persoalan hama tikus menjadi salah satu hal yang dirasakan petani. Karena itu, kami mencoba menghadirkan RUBUHA sebagai alternatif pengendalian hama yang memanfaatkan predator alami,” kata Umam saat dihubungi, Senin (1/9/2026).
Berangkat dari Persoalan Lokal
Pemasangan RUBUHA dilakukan pada sejumlah titik strategis di kawasan pertanian Desa Sukorejo, yakni Sedayu, Grajegan, Jati, dan Jetak. Lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan keberadaan lahan persawahan serta kebutuhan pengendalian hama di wilayah setempat.
Bagi mahasiswa, program ini sekaligus menjadi pembelajaran bahwa inovasi tidak selalu harus berbentuk teknologi kompleks dan membutuhkan biaya besar. Pemanfaatan potensi lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat juga dapat menjadi solusi tepat guna.
“Bagi kami, nilai utama RUBUHA bukan hanya pada bangunan yang berdiri di tengah sawah, tetapi pada gagasan keberlanjutannya. Harapan kami, masyarakat dapat menjaga dan mengembangkan program ini. Jika ke depan keberadaan burung hantu dapat membantu petani mengendalikan tikus, maka manfaat KKN akan terus hidup meskipun mahasiswa sudah tidak lagi berada di Sukorejo,” ujar Umam.
RUBUHA juga memiliki dimensi edukatif. Melalui program tersebut, masyarakat diajak memahami peran predator alami dalam ekosistem pertanian sekaligus melihat alternatif pengendalian hama yang lebih selaras dengan mekanisme alam.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unimus Semarang, Prima Trisna Aji, mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari jumlah program yang terlaksana, tetapi dari kemampuan mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat dan menghadirkan program yang relevan serta berpeluang dilanjutkan.
“Saya sangat mengapresiasi mahasiswa yang mampu melihat persoalan nyata masyarakat kemudian menghadirkan alternatif solusi yang kontekstual. RUBUHA menarik karena mahasiswa tidak sekadar membuat fasilitas, tetapi membawa gagasan pengendalian hama dengan memanfaatkan keseimbangan ekosistem. Inilah semangat pengabdian yang kita harapkan: inovasi lahir dari kebutuhan masyarakat dan manfaatnya tidak berhenti ketika mahasiswa pulang dari lokasi KKN,” ujar Prima.
Ia menilai KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kondisi nyata di masyarakat.
“KKN bukan tentang seberapa banyak program yang dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan, tetapi seberapa tepat program tersebut menjawab kebutuhan desa. Ketika mahasiswa mampu memadukan pengetahuan akademik, potensi lokal, kepedulian terhadap lingkungan, dan partisipasi masyarakat, KKN benar-benar menjadi ruang lahirnya inovasi sosial,” katanya.
Prima berharap RUBUHA dapat dirawat dan dipantau secara berkelanjutan oleh masyarakat. Evaluasi juga diperlukan untuk melihat perkembangan pemanfaatan fasilitas tersebut dan dampaknya terhadap kondisi hama di kawasan pertanian.
“Saya berharap RUBUHA ini terus dirawat, dipantau, dan dikembangkan bersama. Ke depan, dampaknya juga dapat dievaluasi sehingga masyarakat memiliki gambaran mengenai manfaat program terhadap pengendalian hama. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya meninggalkan produk, tetapi juga menumbuhkan gagasan tentang pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Program RUBUHA dilaksanakan oleh 11 mahasiswa Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15, yakni Khairul Umam, Septi Febriyanti, Resa Amelia, Aisya Faradiba Kamila, Bagus Prabowo, Salsabila Rizki Syifa, Arya Raja Armaditya Putra, Ajeng Aulia Putri, Andri Bayu Saputra, Nanda Fitria Rizqi, dan Kayla Khansha Aurelia Dewi.
Pelaksanaan program melibatkan mahasiswa, pemerintah desa, petani, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting agar program yang dihadirkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal.
Setelah masa KKN berakhir pada 27 Agustus 2026, RUBUHA tetap berada di kawasan persawahan Desa Sukorejo. Keberlanjutan program selanjutnya bergantung pada pemeliharaan, pemantauan, dan pengembangan bersama masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Unimus menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dimulai dari persoalan sederhana yang ditemukan di lingkungan sekitar. Dengan memadukan pengetahuan, kepedulian terhadap lingkungan, dan potensi lokal, persoalan tersebut dapat diolah menjadi gagasan yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
RUBUHA pun menjadi salah satu jejak pengabdian mahasiswa di Sukorejo—bukan sekadar fasilitas di tengah sawah, tetapi ikhtiar untuk mendorong pengelolaan ekosistem pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Be the first to comment