WARTAPTM.ID, SURABAYA — Konten Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah pada 21 Agustus 2026 memunculkan perbincangan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan gagasan mengurangi paparan berita buruk karena dinilai tidak selalu dapat diterapkan oleh masyarakat dengan kondisi sosial yang berbeda.
Konten tersebut membahas pengalaman Maudy dalam menghadapi derasnya informasi mengenai berbagai persoalan di dalam maupun luar negeri. Salah satu gagasan yang menjadi sorotan ialah diet berita, yakni mengurangi paparan terhadap berita yang dinilai dapat memengaruhi kondisi mental.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, mengatakan mindfulness pada dasarnya bukan persoalan yang keliru. Menurutnya, kesadaran terhadap pikiran dan emosi serta kemampuan mengelola paparan informasi dapat membantu seseorang menghadapi tekanan.
Namun, persoalan muncul ketika pengalaman tersebut dipandang berlaku sama bagi semua orang.
“Mindfulness jangan dipahami seolah-olah semua orang memiliki kondisi sosial yang sama. Ada orang yang bisa memilih kapan membaca berita, kapan berhenti membaca berita, bahkan kapan mengambil jarak dari persoalan sosial. Tetapi ada masyarakat yang tidak bisa mengambil jarak karena persoalan itu menyangkut pekerjaan, penghasilan, keluarga, atau keselamatan mereka,” ujar Radius, yang juga Wakil Rektor Umsura.
Radius menjelaskan, dalam perspektif kajian budaya, pengalaman seseorang dalam menerima dan merespons informasi tidak terlepas dari posisi sosial serta sumber daya yang dimiliki.
Karena itu, menurut dia, pembicaraan mengenai kesehatan mental perlu mempertimbangkan konteks sosial. Kemampuan seseorang untuk mengatur konsumsi informasi, mengambil jeda, atau menjauh sementara dari persoalan sosial dapat berbeda berdasarkan kondisi kehidupannya.
“Karena itu, saya kira kita perlu membaca mindfulness juga dari perspektif kelas. Jangan sampai kemampuan untuk menjaga kesehatan mental justru menjadi sesuatu yang hanya mudah dilakukan oleh kelompok yang memiliki privilege,” katanya.
Ia mencontohkan, bagi sebagian orang, berita mengenai kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, bencana, atau kebijakan tertentu bukan sekadar informasi yang dapat dihindari. Persoalan tersebut dapat berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
“Berita buruk bagi seseorang bisa jadi hanya informasi. Tetapi bagi orang lain, berita itu adalah realitas hidupnya. Ketika terjadi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, bencana, atau kebijakan yang berdampak langsung, mereka tidak bisa sekadar mengatakan, ‘Saya akan mengambil jeda dari berita ini’,” ungkap Radius.
Menurutnya, kritik yang muncul terhadap konten Maudy lebih tepat dibaca sebagai perdebatan mengenai konteks sosial dari nasihat tentang mindfulness, bukan sebagai penolakan terhadap konsep mindfulness itu sendiri.
“Yang dikritik sebenarnya bukan mindfulness-nya. Yang dipersoalkan adalah konteks sosial di balik nasihat tersebut,” tegasnya.
Radius menilai menjaga kesehatan mental dan mempertahankan kepekaan terhadap persoalan sosial tidak harus dipertentangkan. Mindfulness, kata dia, justru dapat membantu seseorang mengelola respons emosional ketika menghadapi arus informasi yang sangat deras.
“Justru, menurut saya, mindfulness dapat menjadi cara untuk membuat seseorang tidak mudah terseret emosi ketika menghadapi banjir informasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa mindfulness tidak berarti seseorang harus terus-menerus mengonsumsi berita buruk hingga mengganggu kondisi dirinya. Namun, upaya menjaga kesehatan mental juga tidak semestinya membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap persoalan sosial.
“Kita perlu menemukan titik di mana kita tetap waras, tetapi tidak kehilangan kepekaan sosial,” pungkas Radius.

Be the first to comment