Unisa Yogyakarta Libatkan Mahasiswa Baru Kelola Sampah Organik Bersama Warga

Unisa Yogyakarta Libatkan Mahasiswa Baru Kelola Sampah Organik Bersama Warga

WARTAPTM.ID, SLEMANUniversitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta melibatkan mahasiswa baru dalam gerakan pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui program Social Movement Masa Ta’aruf (MATAF) 2026. Kegiatan tersebut diwujudkan melalui penyerahan dan pemasangan LOSIDA (Lodong Sisa Dapur) di Padukuhan Karang Tengah, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (16/9/2026).

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran agar mahasiswa terlibat dalam persoalan lingkungan di sekitarnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Agama Islam Kemuhammadiyahan dan Keaisyiyahan Unisa Yogyakarta, Mufdlilah, mengatakan penyerahan LOSIDA merupakan bagian dari upaya membangun kepedulian lingkungan bersama masyarakat.

“Hari ini kita tidak hanya melaksanakan penyerahan LOSIDA, tetapi kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu membangun gerakan kepedulian terhadap lingkungan bersama masyarakat,” ujar Mufdlilah.

Menurutnya, LOSIDA bukan sekadar sarana untuk mengelola sisa dapur. Program tersebut juga menjadi pembelajaran bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sisa dapat dikelola dan dimanfaatkan sehingga memberi manfaat bagi lingkungan.

Pesan tersebut, kata Mufdlilah, penting dikenalkan kepada mahasiswa sejak awal masa perkuliahan. Pendidikan tinggi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan masyarakat.

“Ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas, ilmu harus bergerak menjadi amal, dan amal harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Program LOSIDA yang dikembangkan Unisa Yogyakarta telah memasuki tahun keempat. Melalui program ini, kampus mendorong masyarakat untuk mengelola sisa dapur sekaligus membangun kebiasaan dalam menangani sampah organik dari rumah.

Pada pelaksanaan tahun ini, Unisa Yogyakarta menyiapkan sekitar 50 LOSIDA untuk dipasang di Padukuhan Karang Tengah. Pemasangan melibatkan perwakilan mahasiswa baru karena jumlah peserta MATAF mencapai sekitar 2.800 mahasiswa.

“Jadi nanti kita perwakilan,” jelas Mufdlilah.

Meski tidak seluruh mahasiswa diterjunkan dalam pemasangan, Unisa Yogyakarta menyebut seluruh mahasiswa baru telah mendapatkan sosialisasi mengenai program tersebut. Dengan demikian, pembelajaran mengenai pengelolaan sampah diharapkan dapat diterapkan mahasiswa di lingkungan masing-masing.

Mufdlilah mengatakan program tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan community development yang menghubungkan perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.

Unisa Yogyakarta berharap pemasangan LOSIDA tidak berhenti sebagai penyediaan sarana, tetapi berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam memilah, mengelola, dan memanfaatkan sisa dapur.

Dukuh Karang Tengah, Surahmin, mengapresiasi keterlibatan Unisa Yogyakarta dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan sampah organik.

“Masalah sampah itu menjadi masalah yang belum bisa terselesaikan. Salah satunya adalah sampah organik,” kata Surahmin.

LOSIDA akan dipasang di wilayah Padukuhan Karang Tengah yang terdiri atas 17 RT dan enam RW. Surahmin berharap fasilitas tersebut dapat menjadi percontohan bagi warga untuk mengelola sampah organik secara mandiri dari rumah.

Sebelumnya, sosialisasi LOSIDA telah dilakukan kepada kader dan tokoh masyarakat. Namun, menurut Surahmin, pemahaman warga mengenai cara kerja dan pemanfaatan LOSIDA masih perlu diperluas.

“Masih banyak warga yang belum tahu persis LOSIDA itu seperti apa. Mungkin baru 40 persen yang tahu tentang LOSIDA sehingga perlu adanya sosialisasi seperti ini,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap kerja sama dengan Unisa Yogyakarta tidak berhenti pada pemasangan LOSIDA. Pendampingan dan pemantauan secara berkala dinilai penting agar masyarakat dapat memahami pengelolaan LOSIDA dan mengembangkannya secara mandiri.

Bagi mahasiswa baru, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus memahami persoalan lingkungan dari dekat.

Rahma Nur Khasanah, mahasiswa baru Program Studi Manajemen Unisa Yogyakarta, mengatakan kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk menambah wawasan dan pengalaman bermasyarakat.

“Menurut aku sangat bagus dan efektif untuk mahasiswa baru karena kita harus bersosialisasi, menambah wawasan dan pengalaman tentang bagaimana terjun di masyarakat,” ungkap Rahma.

Ia berharap kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendorong mahasiswa untuk ikut mengambil peran dalam persoalan lingkungan.

Melalui Social Movement MATAF 2026, Unisa Yogyakarta berupaya menempatkan pengenalan kehidupan kampus tidak hanya melalui kegiatan internal, tetapi juga melalui keterlibatan mahasiswa dalam persoalan nyata di masyarakat. Pengelolaan sampah organik menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk belajar bahwa pengetahuan dan kepedulian dapat diterjemahkan ke dalam tindakan yang bermanfaat.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply