Alumni UMM Bangun Karier di Eropa, Tekankan Pentingnya Networking Sejak Mahasiswa

Alumni UMM Bangun Karier di Eropa, Tekankan Pentingnya Networking Sejak Mahasiswa
Syariful Rizqi, alumni Universitas Muhammadiyah Malang.

Berkarier di tingkat internasional menjadi impian banyak anak muda. Bagi Syariful Rizqi, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), impian tersebut kini menjadi kenyataan.

Pria yang akrab disapa Eki ini berhasil meniti karier sebagai Field Technical Engineer di perusahaan berbasis di Inggris dengan penugasan klien di berbagai wilayah Eropa. Dalam pekerjaannya, ia terlibat dalam layanan dukungan teknis di sejumlah negara seperti Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA).

Eki merupakan lulusan Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMM angkatan 2015. Dalam kesehariannya, ia bertanggung jawab memastikan sistem teknologi informasi klien berjalan optimal.

“Tanggung jawab saya memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Prinsip kerja di sini menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti dalam setiap tugas,” ujarnya.

Pengalaman Internasional Sejak Mahasiswa

Menurut Eki, perjalanan kariernya di kancah global tidak terlepas dari pengalaman yang ia bangun sejak masa kuliah di UMM. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan internasional yang difasilitasi oleh International Relations Office UMM.

Melalui kegiatan tersebut, ia sering terlibat dalam interaksi dengan profesor dari luar negeri serta berbagai proyek sosial yang melibatkan mahasiswa lintas negara.

“Pengalaman di UMM, terutama saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pakar dari berbagai negara, sangat mengubah cara pandang saya. Jaringan internasional yang saya bangun saat itu masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang,” jelasnya.

Pengalaman membangun jejaring global tersebut, menurutnya, menjadi salah satu modal penting dalam membuka peluang kerja di luar negeri.

Budaya Kerja Global

Bekerja di lingkungan internasional membuat Eki merasakan perbedaan budaya kerja dibandingkan dengan di Indonesia. Salah satu hal yang paling ia rasakan adalah kuatnya penerapan prinsip work-life balance di lingkungan kerja Eropa.

Ia menyebutkan bahwa waktu istirahat dan hari libur sangat dihargai, sementara pembagian tugas dalam organisasi diatur secara jelas.

Selain itu, sistem kerja profesional yang berbasis meritokrasi membuat setiap karyawan memiliki ruang untuk bekerja sesuai kompetensi dan tanggung jawabnya.

Meski bekerja di lingkungan yang kompetitif, Eki mengaku tidak mengalami culture shock yang berarti karena lingkungan kerja yang suportif.

Kepada mahasiswa UMM, Eki berpesan agar tidak hanya fokus mengasah kemampuan teknis, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi dan jejaring sejak dini.

Menurutnya, kemampuan berkomunikasi yang baik menjadi kunci dalam membangun kepercayaan serta memperluas peluang karier di tingkat global.

“Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*