Beyond Tolerance, Ini Cara UMP lahirkan generasi Inklusif di Tengah Tantangan Era Digital

Beyond Tolerance, Ini Cara UMP lahirkan generasi Inklusif di Tengah Tantangan Era Digital

WARTAPTM.ID, PURWOKERTO – Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jebul Suroso, menilai bahwa kampus saat ini tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi juga harus menjadi ruang pembentukan karakter yang mampu melahirkan generasi yang terbuka terhadap perbedaan, memiliki empati sosial, serta mampu berkolaborasi dalam masyarakat yang semakin kompleks.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Jebul Suroso, saat hadir sebagai narasumber dalam segmen Moderasi Beragama di RRI Purwokerto Pro 1 bertajuk “Beyond Tolerance: Cara Kampus Kebinekaan Melahirkan Gen-Z Inklusif” yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube RRI Purwokerto, Selasa (9/6).

Menurutnya, tantangan yang dihadapi Generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi membuat mereka hidup dalam arus informasi yang sangat cepat. Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang besar untuk belajar dan berinovasi. Namun di sisi lain, generasi muda juga rentan terpapar disinformasi, ujaran kebencian, dan berbagai bentuk polarisasi yang berkembang di ruang digital.

“Kampus memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial. Mereka harus mampu menghargai perbedaan, membangun dialog, dan bekerja sama dengan siapa pun tanpa melihat latar belakang suku, agama, maupun budaya,” ujar Jebul, Selasa (9/6).

Ia menjelaskan bahwa keberagaman merupakan realitas yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, pendidikan tinggi harus mampu menghadirkan lingkungan yang mendorong mahasiswa untuk belajar hidup bersama dalam perbedaan.

Dalam pandangannya, konsep toleransi saja tidak lagi cukup. Generasi muda perlu didorong menuju sikap yang lebih inklusif, yaitu kemampuan untuk aktif berinteraksi, berkolaborasi, dan membangun pemahaman bersama dengan kelompok yang berbeda.

“Di masa depan, dunia kerja dan kehidupan sosial akan semakin mengandalkan kolaborasi lintas budaya dan lintas negara. Karena itu, kemampuan memahami keberagaman menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa,” katanya.

Jebul menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai laboratorium sosial yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah, latar belakang ekonomi, budaya, hingga pandangan yang berbeda. Situasi tersebut harus dimanfaatkan sebagai proses pembelajaran kehidupan yang tidak kalah penting dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.

Menurutnya, penguatan karakter inklusif juga perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital. Mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan serta mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

“Kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kecerdasan sosial dan moral. Jika tidak, kemajuan teknologi justru bisa memperbesar konflik dan kesenjangan di masyarakat,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan sumber daya manusia yang adaptif dan kolaboratif, gagasan tentang kampus inklusif dinilai semakin relevan. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang kompeten secara profesional, tetapi juga individu yang mampu menjadi perekat sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Bagi Jebul, keberhasilan pendidikan tinggi pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah lulusan atau capaian akademik, tetapi juga dari sejauh mana kampus mampu melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama, menghargai perbedaan, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

“Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan. Kampus harus hadir untuk menyiapkan generasi seperti itu,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply