WARTAPTM.ID, MADIUN – Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) kembali menambah doktor baru. Dosen Ilmu Komunikasi, Muhammad Syarifuddin, resmi meraih gelar doktor usai menjalani Ujian Terbuka Promosi Doktor di Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Rabu (15/4/2026).
Dalam ujian tersebut, ia mempertahankan disertasi berjudul “Strategi Dakwah Majelis Ilmu dan Dzikir Ar Raudhah dalam Kontestasi Islam di Kota Surakarta.”
Syarifuddin mengungkapkan bahwa capaian ini bukan sekadar soal gelar akademik, tetapi hasil dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
“Lega, haru, dan syukur menyatu dalam hati. Terima kasih ya Allah, Engkau telah menguatkan langkah ini. Semoga ilmu ini menjadi jalan kebermanfaatan,” ujarnya.
Mengurai Kontestasi Islam di Ruang Publik
Dalam disertasinya, Syarifuddin mengkaji fenomena kontestasi Islam di Kota Surakarta, yang terjadi akibat perbedaan ideologi, kultural, dan epistemologis di antara kelompok Muslim.
Kontestasi tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari aktivitas dakwah, praktik keagamaan, hingga pemanfaatan media digital.
“Penelitian ini bertujuan memahami dinamika kontestasi tersebut serta strategi dakwah yang dilakukan secara non-konfrontatif,” jelasnya.
Pendekatan Sufistik-Kultural sebagai Strategi Dakwah
Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini memadukan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan validasi triangulasi.
Secara teoretis, penelitian ini menggabungkan konsep strategi dakwah Al-Bayānūnī dan teori hegemoni dari Antonio Gramsci.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontestasi terjadi di berbagai ruang, seperti ranah ideologis, ruang publik keagamaan, media digital, hingga praktik kultural.
Sementara itu, Majelis Ilmu dan Dzikir Ar Raudhah merespons situasi tersebut dengan pendekatan sufistik-kultural, melalui penguatan spiritualitas, sanad keilmuan, keteladanan akhlak, serta pemanfaatan media digital secara persuasif.
“Strategi ini mencerminkan war of position secara kultural dan simbolik, yang membangun hegemoni moral dan spiritual secara damai dan berkelanjutan,” terang Syarifuddin.
Ia menambahkan, model ini dapat menjadi kontribusi penting dalam pengembangan kajian dakwah, khususnya di masyarakat urban yang plural dan dinamis.
Rektor UMMAD, Sofyan Anif, menyampaikan bahwa pencapaian ini sejalan dengan komitmen kampus dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kami terus mendorong peningkatan kualifikasi dosen hingga jenjang doktor. Hal ini menjadi bagian dari upaya membangun atmosfer akademik yang unggul,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan dosen berkualifikasi doktor akan berdampak pada peningkatan kualitas layanan akademik bagi mahasiswa serta memperkuat posisi UMMAD sebagai pilihan studi.
Be the first to comment