Mahasiswa UAD Kembangkan Kitosan untuk Terapi PPOK, Dorong Inovasi Obat Inhalasi Berbasis Herbal

Mahasiswa UAD Kembangkan Kitosan untuk Terapi PPOK, Dorong Inovasi Obat Inhalasi Berbasis Herbal
Tim PKM RE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Hadirkan Inovasi Inhalasi Berbasis Kitosan untuk Terapi PPOK (Foto. Tim PKM RE UAD)

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Inovasi mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE), tim mahasiswa UAD mengembangkan pemanfaatan kitosan sebagai sistem penghantaran obat untuk terapi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

PPOK hingga kini masih menjadi salah satu penyakit pernapasan dengan angka kejadian yang terus meningkat, terutama akibat paparan asap rokok. Kondisi ini memicu peradangan kronis, kerusakan alveolus, hingga penumpukan mukus yang menyebabkan penurunan fungsi paru secara bertahap.

Di sisi lain, terapi inhalasi yang selama ini menjadi andalan pengobatan PPOK masih menghadapi tantangan. Obat yang diberikan kerap tidak bekerja optimal karena cepat tereliminasi oleh mekanisme pembersihan alami saluran napas (mucociliary clearance).

Menjawab persoalan tersebut, tim PKM-RE UAD memanfaatkan kitosan sebagai biopolimer alami yang memiliki sifat biokompatibel, biodegradable, tidak toksik, serta mampu melekat pada lapisan mukosa (mucoadhesive).

Karakteristik ini memungkinkan obat bertahan lebih lama di saluran pernapasan sehingga penyerapan zat aktif menjadi lebih optimal.

Ketua tim peneliti, M. Faiz Hasan, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk meningkatkan efektivitas terapi sekaligus menekan efek samping.

“Pemanfaatan kitosan sebagai sistem penghantaran obat diharapkan mampu meningkatkan waktu tinggal obat di saluran pernapasan, sehingga terapi PPOK dapat bekerja lebih efektif dengan dosis yang lebih rendah,” ungkapnya.

Dalam penelitian tersebut, kitosan dikombinasikan dengan minyak atsiri daun nilam (Pogostemon cablin) yang mengandung senyawa aktif patchouli alcohol dengan sifat antiinflamasi dan antioksidan.

Melalui pendekatan teknologi nanomucoadhesive, formulasi ini dirancang untuk melindungi senyawa aktif dari degradasi, meningkatkan daya lekat pada mukosa paru, serta menghantarkan zat aktif langsung ke jaringan yang mengalami inflamasi.

Dosen pendamping, Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc., menilai inovasi ini memiliki potensi besar dalam pengembangan terapi berbasis bahan alam.

“Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi terapi yang lebih efektif, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan biomaterial alami Indonesia dalam pengembangan teknologi farmasi modern,” jelasnya.

Penelitian ini dilaksanakan pada Mei hingga Agustus 2026 di sejumlah laboratorium UAD, meliputi Laboratorium Struktur Fisiologi Tumbuhan, Laboratorium Struktur dan Fisiologi Hewan, Laboratorium Teknologi Farmasi, serta Laboratorium Biologi Farmasi.

Tim peneliti terdiri atas mahasiswa lintas program studi, yakni M. Faiz Hasan, Muhammad Rifqi Rahadi, Jenny Reinita, Diva Iedhari Nisa, serta Khayru Diaz Ravikhasyah Untoro.

Kolaborasi multidisiplin ini menjadi kekuatan dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya berbasis riset, tetapi juga berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.

Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif terapi inhalasi berbasis herbal yang lebih efektif, dengan dosis lebih rendah dan efek samping yang minimal.

Selain itu, penelitian ini juga memperkuat posisi biomaterial lokal sebagai sumber inovasi dalam pengembangan teknologi kesehatan berbasis nanoteknologi.

Be the first to comment

Leave a Reply