WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sukses menyelenggarakan Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia.
Kegiatan strategis yang berlangsung selama enam hari, sejak 13 hingga 18 Juli 2026 ini, ditutup secara resmi di Prime Hotel Convention & Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (18/7/2026).
Pelaksanaan LT menjadi bagian dari ikhtiar sistemik persyarikatan dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan PTMA yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing global. Sejak dimulai pada 2018, program ini telah melahirkan 496 pimpinan PTMA yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak transformasi institusi.
Direktur Pelatihan LT Angkatan XII, Moh. Mudzakkir, menegaskan bahwa kompleksitas tantangan zaman menuntut pimpinan PTMA memiliki kesadaran global tanpa meninggalkan pijakan lokal.
“Pimpinan PTMA dituntut untuk mampu berpikir global dan bertindak lokal (think globally, act locally),” ujarnya dalam laporan penutupan.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali pimpinan di level manajer puncak agar mampu merespons dinamika internal kampus, persyarikatan, hingga perubahan di tingkat nasional dan global.
Pada angkatan ini, LT diikuti oleh 51 peserta dari 45 PTMA di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 39 universitas, 4 institut, dan 2 sekolah tinggi. Komposisi peserta mencakup 7 Rektor/Ketua/Direktur dan 39 Wakil Rektor.
Mudzakkir juga menyoroti tren positif dalam keterwakilan gender yang semakin seimbang, dengan 29 peserta laki-laki dan 22 peserta perempuan.
“Ini perkembangan yang menggembirakan. Kepemimpinan PTMA semakin inklusif dan memberi ruang luas bagi kader perempuan untuk berkontribusi,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menekankan bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah pelatihan berakhir. Para alumni LT dituntut mampu mengimplementasikan seluruh materi menjadi langkah nyata di kampus masing-masing.
Ia menyoroti pentingnya penguatan tradisi akademik, khususnya dalam penulisan karya ilmiah sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual pimpinan perguruan tinggi.
“Kita ingin praktik-praktik baik di kampus tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi terdokumentasi dan dipublikasikan dalam jurnal bereputasi,” tegasnya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Majelis Diktilitbang berencana menginisiasi Higher Education Leadership National Conference sebagai ruang berbagi gagasan inovatif antar pimpinan PTMA menuju perguruan tinggi unggul berkelas dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, mengingatkan bahwa sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci utama kemajuan institusi, melampaui kemegahan infrastruktur fisik.
Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam meraih hibah riset dan publikasi ilmiah sebagai buah dari keseriusan dalam mengembangkan kapasitas SDM.
“Hanya dosen yang terus belajar yang boleh terus mengajar. Dan hanya pimpinan yang terus belajar yang layak memimpin,” tegasnya.
Sebagai parameter keberhasilan LT, Sayuti mendorong para peserta untuk mereplikasi pengetahuan yang diperoleh melalui penyelenggaraan Leadership Management Training (LMT) secara mandiri di kampus masing-masing.
Langkah ini, menurutnya, telah mulai dilakukan oleh sejumlah PTMA seperti UM Riau, UM Maumere, UM Jember, UMSU, UM Palu, hingga UM Maluku Utara sebagai bagian dari penguatan kepemimpinan berjenjang.
“Jadikan ilmu dari pelatihan ini sebagai wasilah untuk memperbaiki kampus dan menghadirkan Islam Berkemajuan di seluruh dunia,” pungkasnya.
Be the first to comment