WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Director of Training Leadership Training (LT) Angkatan XII, Moh. Mudzakkir, menegaskan bahwa pelaksanaan LT merupakan bagian dari ikhtiar sistemik Muhammadiyah dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) yang adaptif dan berdaya saing.
Hal tersebut disampaikannya dalam laporan penutupan LT Pimpinan PTMA Angkatan XII yang berlangsung di Prime Hotel Convention & Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (18/7/2026).
Menurut Mudzakkir, kepemimpinan PTMA saat ini tidak lagi cukup hanya berorientasi pada konteks lokal, tetapi juga harus memiliki kesadaran global.
“Pimpinan PTMA dituntut untuk mampu berpikir global dan bertindak lokal (think globally, act locally) dalam merespons dinamika zaman yang semakin kompleks,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa LT dirancang untuk membekali pimpinan di level manajer puncak agar mampu menghadapi tantangan internal kampus, dinamika persyarikatan, hingga perubahan di tingkat nasional dan global.
Lebih jauh, Mudzakkir menegaskan bahwa LT bukan sekadar pelatihan jangka pendek, melainkan bagian dari proses panjang kaderisasi kepemimpinan yang telah dimulai sejak 2018. Ia pun mengapresiasi tren positif di lingkungan PTMA, di mana sejumlah kampus mulai menginisiasi Leadership Management Training (LMT) secara mandiri.
Beberapa PTMA seperti Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Muhammadiyah Maumere, Universitas Muhammadiyah Jember, hingga Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, disebut telah mengambil langkah konkret dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan hingga level fakultas dan unit kerja.
“Ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa penguatan kepemimpinan harus dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan,” jelasnya.
LT Angkatan XII sendiri diikuti oleh 51 peserta dari 45 PTMA di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 39 universitas, 4 institut, dan 2 sekolah tinggi. Dari sisi jabatan, peserta mencakup pimpinan puncak, dengan komposisi 7 Rektor/Ketua/Direktur dan 39 Wakil Rektor.
Menariknya, Mudzakkir juga menyoroti semakin seimbangnya keterwakilan gender dalam kepemimpinan PTMA. Pada angkatan ini, terdapat 29 peserta laki-laki dan 22 peserta perempuan.
“Ini perkembangan yang menggembirakan. Kepemimpinan PTMA semakin inklusif dan memberi ruang yang luas bagi kader perempuan untuk berkontribusi,” ungkapnya.
“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” Mengutip pesan Alvin Toffler tersebut, Mudzakkir mengingatkan bahwa tantangan utama pimpinan PTMA pada era kontemporer bukan sekadar mengelola institusi, tetapi membangun kemampuan organisasi untuk terus belajar, berani meninggalkan praktik yang tidak lagi relevan, dan menciptakan inovasi yang sesuai dengan dinamika zaman.
Dalam konteks tersebut, ia mendorong para pimpinan PTMA untuk memiliki keberanian melakukan refleksi diri dan membuka ruang pembelajaran dari pengalaman orang lain.
“Semangat untuk learn, unlearn, dan relearn menjadi kunci bagi pemimpin agar tetap relevan, adaptif, dan mampu memberikan dampak nyata,” tegasnya.
Menutup laporannya, Mudzakkir berharap seluruh materi yang telah diperoleh selama pelatihan—mulai dari analisis diri hingga rancang bangun PTMA berbasis kecerdasan artifisial—dapat diimplementasikan secara konkret melalui action plan di masing-masing institusi.
Dengan demikian, keberlanjutan transformasi kepemimpinan di PTMA dapat terus terjaga dan berkontribusi pada masa depan pendidikan Muhammadiyah yang lebih maju dan mencerahkan.