WARTAPTM.ID, SURABAYA – Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Moh. Mudzakkir, menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, tetapi momentum peneguhan tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.
Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) di Dyandra Convention Center, Surabaya, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, perkembangan pesat revolusi digital, kecerdasan buatan, dan disrupsi global menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan memiliki kepedulian sosial.
“Pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi proses membentuk manusia berkemajuan yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Mengutip pandangan tokoh pendidikan Derek Bok, ia menjelaskan bahwa pendidikan tinggi harus membekali mahasiswa dengan kompetensi abad ke-21, seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, penalaran moral, serta kesiapan menghadapi dinamika global.
Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman menjadi fondasi utama dalam pengembangan keilmuan. Merujuk Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11, ia mengingatkan bahwa derajat orang beriman dan berilmu ditinggikan oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Dengan demikian, wisuda dipahami sebagai titik awal pengabdian yang lebih luas, bukan akhir dari perjalanan intelektual.
“Jadilah generasi yang mampu memadukan keunggulan akademik, kecanggihan teknologi, moralitas, dan kepedulian sosial dalam satu tarikan nafas peradaban,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Mudzakkir juga memaparkan perkembangan signifikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang terus menguat sebagai kekuatan penting dalam pendidikan tinggi nasional. Hingga 2026, tercatat terdapat 164 PTMA dengan lebih dari 2.500 program studi dan sekitar 677 ribu mahasiswa.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas PTMA juga ditandai dengan capaian puluhan institusi yang meraih akreditasi Unggul serta lahirnya ratusan profesor di lingkungan Muhammadiyah.
“Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya membangun lembaga pendidikan, tetapi juga membangun ekosistem ilmu pengetahuan dan dakwah pencerahan,” ujarnya.
Menurutnya, Universitas Muhammadiyah Surabaya merupakan bagian dari gerakan besar tersebut yang terus berkembang dan memberikan dampak nyata, termasuk melalui capaian akreditasi unggul di sejumlah program studi strategis.
Ia pun mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu sebagai sarana perubahan sosial, sebagaimana ungkapan tokoh dunia Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.
“Karena itu, lulusan Muhammadiyah harus hadir sebagai pelaku perubahan, bukan sekadar penonton dalam dinamika peradaban,” pungkasnya.
Be the first to comment