WARTAPTM.ID, MEDAN — Raja Muda Perlis, Tuanku Syed Faizuddin Putra ibni Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail, resmi dikukuhkan sebagai Kanselor Pertama Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) periode 2026–2031. Pengukuhan ini menjadi bagian dari langkah internasionalisasi Muhammadiyah melalui pengembangan pendidikan tinggi di Malaysia.
Prosesi pemasyhuran berlangsung di Auditorium Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Senin (14/9/2026). Pengukuhan dilakukan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, mewakili Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Masa jabatan Tuanku Syed Faizuddin Putra sebagai Kanselor UMAM berlaku mulai 14 September 2026 hingga 13 September 2031 sesuai ketentuan Perlembagaan UMAM 2021.
Dalam amanatnya, Abdul Mu’ti mengatakan pengukuhan tersebut tidak sekadar menjadi agenda kelembagaan, tetapi juga momentum memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia melalui pendidikan tinggi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan dengan ijazah. Kampus harus menjadi ruang untuk membangun pemikiran, mencari kebenaran, sekaligus membentuk akhlak.
“Universitas tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, melainkan tempat manusia mencari kebenaran, membangun pemikiran, dan membentuk akhlak,” tegas Mu’ti.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan perlu diimbangi dengan penguatan karakter dan integritas manusia. Karena itu, kemajuan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari perkembangan teknologi maupun kelembagaan, tetapi juga dari kemampuannya membentuk sumber daya manusia yang bijaksana dan berintegritas.
Tuanku Syed Faizuddin Putra menyatakan menerima amanah sebagai Kanselor UMAM dengan penuh tanggung jawab. Dalam titah pemasyhurannya, ia menekankan penguatan penelitian yang relevan dengan kebutuhan zaman serta perluasan kolaborasi internasional.
Ia melihat UMAM memiliki peluang untuk mengambil peran lebih luas dalam membangun jejaring ilmu pengetahuan di kawasan Asia Tenggara.
“UMAM memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan ilmu pengetahuan yang mendekatkan masyarakat di kawasan Asia Tenggara,” ujar Tuanku Syed Faizuddin Putra.
Ia menekankan bahwa kecemerlangan ilmu perlu berjalan bersama akhlak, pemikiran kritis, kematangan intelektual, dan semangat berkhidmat kepada masyarakat.
Selain memperkuat riset, ia mendorong sinergi antara UMAM dan jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu fondasi pengembangan jejaring pendidikan tinggi Muhammadiyah di kawasan.
Pemilihan UMSU sebagai lokasi pemasyhuran memiliki keterkaitan dengan hubungan Tuanku Syed Faizuddin Putra dengan Muhammadiyah. Pada 2025, Raja Muda Perlis tersebut menerima gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) bidang Ilmu Hukum serta Anugerah Bintang Tertinggi Muhammadiyah dari UMSU dan PP Muhammadiyah.
Rektor UMSU Akrim, menyampaikan kebanggaan atas kepercayaan yang diberikan kepada UMSU sebagai tuan rumah. Menurutnya, momentum tersebut turut memperlihatkan arah internasionalisasi Muhammadiyah dalam membangun institusi pendidikan yang memiliki jejaring global.
Sementara itu, Naib Canselor (Rektor) UMAM, Saidul Amin, menyebut kehadiran UMAM di Perlis, Malaysia, sebagai bagian dari ikhtiar Muhammadiyah mengembangkan dakwah Islam Berkemajuan melalui pendidikan tinggi di tingkat internasional.
UMAM diharapkan menjadi ruang yang memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia sekaligus mengembangkan kerja sama keilmuan di kawasan.
Pengukuhan Kanselor pertama tersebut turut dihadiri jajaran PP Muhammadiyah, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Penang, Konsul Jenderal Malaysia di Medan, pejabat Sekretariat Kerajaan Negeri Perlis, Pimpinan Majelis Diktilitbang, serta pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah.
Dengan pengukuhan tersebut, UMAM memasuki fase baru pengembangan kelembagaan dengan menempatkan penguatan riset, kolaborasi internasional, dan jejaring PTMA sebagai bagian dari upaya memperluas kontribusi pendidikan tinggi Muhammadiyah di kawasan Asia Tenggara.

Be the first to comment