Oleh: Nurhadi, Ph.D – Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Perguruan tinggi saat ini berada di tengah arus transformasi sosial yang begitu cepat dan masif — ditandai oleh disrupsi digital, revolusi industri, kemunculan Society 5.0, serta krisis iklim dan kebencanaan global. Bersamaan dengan itu, dunia pendidikan tinggi juga dihadapkan pada berbagai persoalan tata kelola yang semakin kompleks: kesiapan alumni menghadapi dunia ketenagakerjaan yang dinamis, keberlanjutan kelembagaan, dan kompetisi yang kian ketat antarperguruan tinggi. Semua faktor ini menuntut perguruan tinggi untuk beradaptasi, berinovasi, dan memperbarui orientasi keilmuannya.
Dalam konteks tersebut, University 5.0 hadir sebagai paradigma baru penyelenggaraan pendidikan tinggi yang menekankan integrasi teknologi, keberlanjutan, kolaborasi lintas sektor, serta orientasi sosial dan kemanusiaan. Tulisan ini mencoba menjawab dua pertanyaan penting. Pertama, sejauhmana Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) telah bertransformasi menuju University 5.0; dan kedua, apa saja tantangan serta strategi yang perlu disiapkan untuk memasukinya.
Transformasi Pendidikan Tinggi
Transformasi perguruan tinggi berlangsung melalui beberapa fase, mulai dari University 1.0 hingga University 5.0. Namun, transformasi tersebut tidak bersifat linier atau menggantikan fase sebelumnya secara mutlak.
Sebuah perguruan tinggi yang telah mencapai fase lanjut tetap mempertahankan nilai dan praktik dari tahap sebelumnya. PTMA di Indonesia pun menunjukkan keragaman posisi dalam spektrum ini; karena itu, dinamika transformasi setiap PTMA perlu dibaca dalam konteks perbedaan kapasitas, sejarah, dan lingkungan kelembagaan masing-masing.
Pada tahap awal, perguruan tinggi berada dalam fase University 1.0 atau teaching university, dimana fokus utama adalah pengajaran. Pada fase ini, PTMA berperan penting dalam membuka akses pendidikan tinggi dengan ciri Islam Berkemajuan. Ciri dominan dari fase University 1.0 adalah ketergantungan pada sumber pembiayaan mahasiswa (SPP), sementara tantangan masih muncul dalam hal penyediaan infrastruktur, kualitas dosen, metode pembelajaran, hingga capaian hasil belajar. Banyak PTMA di fase ini masih berjuang untuk meningkatkan jumlah mahasiswa, memperbaiki mutu pengajaran, dan menata sistem akademiknya agar lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Memasuki fase berikutnya, perguruan tinggi berkembang menjadi University 2.0 atau research university, dengan penekanan pada riset dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pada fase ini, PTMA mulai membangun pusat-pusat penelitian dan laboratorium riset unggulan. Sebagian PTMA telah masuk dalam klaster riset nasional dan memperoleh rekognisi di indeks internasional seperti Scopus, sementara sebagian lainnya masih menghadapi keterbatasan sumber daya dan kapasitas peneliti. Masih terdapat dosen yang belum memiliki akun SINTA atau Scopus, dan banyak riset yang belum sepenuhnya berdampak nyata bagi transformasi sosial.
Pada tahap yang lebih maju, muncul fase University 3.0 atau entrepreneurial university, yang berorientasi pada kewirausahaan dan inovasi. Beberapa PTMA telah mengembangkan inkubator bisnis, jejaring industri, serta lembaga pengembangan kewirausahaan. Unit-unit bisnis PTMA kini meluas, mulai dari rumah sakit, perhotelan, jasa komersial, pangan, peternakan, hingga pendidikan dan pelatihan.
Di sisi lain, masih banyak PTMA yang belum menegaskan orientasi kewirausahaan secara kelembagaan. Kolaborasi dengan dunia industri masih terbatas pada program magang, riset bersama, atau kegiatan konsultatif yang belum sepenuhnya berkelanjutan.
Menapaki era digitalisasi, perguruan tinggi memasuki fase University 4.0 atau digital/smart university, yang berfokus pada digitalisasi tata kelola, pembelajaran, dan riset. PTMA merespons perubahan ini dengan mengembangkan sistem e-learning, smart governance, serta inovasi berbasis teknologi digital.
Banyak PTMA telah menerapkan learning management system, meskipun masih dihadapkan pada kendala literasi digital dosen dan mahasiswa serta keterbatasan infrastruktur digital. Kehadiran Universitas Siber Muhammadiyah (Universitas SiberMu) menjadi tonggak penting bagi adaptasi PTMA terhadap era perkuliahan daring. Di sisi lain, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) diberbagai kampus mulai tumbuh dalam pengajaran, penelitian, dan administrasi.
Pada fase terkini, dunia pendidikan tinggi ditantang untuk memasuki University 5.0 atau human-centered and sustainable university. Pada tahap ini, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pusat inovasi digital, tetapi juga pusat inovasi sosial yang berorientasi pada kemanusiaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan kolektif.
University 5.0 mengajak PTMA untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, keberlanjutan lingkungan, serta tanggung jawab sosial sebagai ruh utama dari perguruan tinggi Islam Berkemajuan.
Tantangan Menuju University 5.0
Colamatteo dkk. (2025) dalam artikelnya berjudul “A Review of the Concept of University 5.0” melakukan kajian literatur sistematis terhadap 81 artikel jurnal internasional yang terbit antara tahun 2019–2025. Dari studi tersebut, mereka mengidentifikasi lima pilar utama University 5.0, yakni digitalisasi (digitalization, 65 artikel), penguatan pembelajaran (enhanced learning, 48 artikel), keberlanjutan (sustainability, 17 artikel), kualitas (quality, 5 artikel), dan keamanan siber (cyber security, 2 artikel). Temuan mereka menunjukkan arah evolusi perguruan tinggi menuju sistem yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga berdaya secara sosial dan beretika dalam penggunaan teknologi digital.
Tantangan pertama bagi PTMA dalam memasuki era University 5.0 adalah digitalisasi dan keamanan siber (pilar 1 dan 5). PTMA dituntut untuk mampu mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, pengembangan smart campus berbasis Internet of Things (IoT) dan virtual reality membawa peluang sekaligus risiko baru. Oleh karena itu, PTMA perlu memiliki strategi keamanan siber yang matang melalui kebijakan enkripsi, sistem keamanan digital, dan peningkatan literasi siber bagi seluruh sivitas akademika.

Sebagai strategi, PTMA dapat menyusun roadmap transformasi digital yang terarah dan berkelanjutan. Langkah ini dapat diperkuat dengan investasi pada infrastruktur smart campus, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan big data dalam riset serta pembelajaran. Untuk mendukung keamanan siber, PTMA perlu menetapkan kebijakan dan pedoman keamanan digital yang bersifat institusional. Semua upaya tersebut harus diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program literasi digital dan pelatihan pemanfaatan teknologi terkini.
Tantangan kedua adalah peningkatan pengalaman pembelajaran (enhanced learning). Konsep ini merujuk pada upaya memperkuat efektivitas, keterlibatan, dan hasil belajar mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi, kolaborasi, dan pendekatan pembelajaran aktif. Tantangannya bukan sekadar menambahkan perangkat digital dalam kelas, melainkan memperkaya pengalaman belajar agar lebih bermakna, personal, dan kontekstual terhadap kebutuhan zaman serta realitas sosial.
Strategi yang dapat ditempuh antara lain penguatan desain pembelajaran berbasis student-centered learning dengan mengadopsi model seperti flipped classroom dan project-based learning. Kurikulum PTMA perlu bersifat adaptif terhadap perkembangan teknologi dan sosial, menumbuhkan kreativitas, serta memastikan relevansi sosial dan profesional lulusan.
Dengan demikian, transformasi pembelajaran tidak hanya meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga membentuk karakter inovatif dan empatik.
Tantangan ketiga adalah peningkatan kualitas. PTMA perlu membangun sistem manajemen mutu yang berbasis bukti (evidence-based quality management) dan berorientasi pada pengalaman mahasiswa. Peningkatan mutu tidak boleh berhenti pada capaian akreditasi, melainkan harus mencerminkan tanggung jawab sosial universitas. Selain itu, aksesibilitas pendidikan yang inklusif juga menjadi bagian penting dari dimensi kualitas di era University 5.0.
Strategi peningkatan kualitas menuntut PTMA untuk membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Fokusnya bukan semata pada kepuasan mahasiswa, tetapi juga pada relevansi lulusan terhadap kebutuhan dunia usaha dan dunia industry (DUDI), serta masyarakat. PTMA perlu tampil sebagai universitas yang berdampak sosial — bukan sekadar “menara gading”, tetapi institusi yang menghadirkan solusi nyata bagi tantangan bangsa.
Tantangan keempat adalah kontribusi terhadap keberlanjutan. PTMA diharapkan berperan aktif dalam mewujudkan agenda pembangunan berkelanjutan, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan masyarakat, perbaikan lingkungan, dan keadilan sosial. Di tengah tekanan menjaga keberlangsungan institusi, PTMA tetap dituntut untuk menjadi agen perubahan dalam mewujudkan keberlanjutan pembangunan yang berkeadilan.
Sebagai strategi, PTMA dapat mengintegrasikan kegiatan catur dharma yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Secara tematik, PTMA dapat menjadi pelopor inisiatif seperti green campus, inclusive campus, health-promoting university (HPU), dan impact university. Upaya ini dapat diperkuat melalui penyusunan peta jalan kontribusi kampus terhadap isu keberlanjutan, sehingga arah transformasi PTMA menuju University 5.0 tidak hanya canggih secara digital, tetapi juga berdaya guna bagi kemanusiaan dan bumi yang berkelanjutan.
Penutup
University 5.0 menandai pergeseran paradigma penting dalam dunia pendidikan tinggi — dari universitas sebagai pusat produksi pengetahuan menjadi universitas sebagai pusat inovasi sosial dan digital. Transformasi ini menuntut perubahan struktural dan kultural yang konsisten di tubuh PTMA: bagaimana teknologi tidak hanya diadopsi, tetapi dihayati sebagai alat kemajuan; bagaimana pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang sosial tempat mahasiswa berinteraksi dengan realitas masyarakat.
Namun, perjalanan menuju University 5.0 tidak tanpa tantangan. PTMA masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur digital, kesiapan dosen dan mahasiswa yang belum merata, kesenjangan akses teknologi, serta risiko etika dan privasi data di era digital.
Oleh karena itu, keberhasilan transformasi menuntut empat prasyarat utama: pemanfaatan teknologi digital yang efektif dengan sistem keamanan siber yang kuat; pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa; peningkatan kualitas melalui budaya mutu berkelanjutan; dan peneguhan budaya keberlanjutan dalam seluruh aspek kehidupan kampus.
PTMA perlu menjadikan University 5.0 bukan sekadar jargon atau mantra, melainkan peta jalan nyata transformasi kelembagaan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan, PTMA berpotensi tampil sebagai model universitas yang berkemampuan global, berkarakter lokal, dan berkomitmen sosial — sebuah universitas yang tidak hanya unggul dalam inovasi digital, tetapi juga membawa keberkahan bagi kemanusiaan dan peradaban.
Be the first to comment