Restorasi Lingkungan untuk Masa Depan Berkelanjutan

Restorasi Lingkungan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Kusno Wibowo, S.T., M.Si., dan Hening Purwati Parlon, S.Sos., M.M., dalam Penyampaian Materi I Pada Pengajian Ramadan PWM DIY (Foto. Humas UAD)

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) menghadirkan materi bertajuk “Restorasi Lingkungan dalam Perkhidmatan Masa Depan” dalam rangkaian Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan pada 28 Februari 2026 di Amphitarium Lantai 9 Gedung Ahmad Dahlan Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Sesi ini menghadirkan Hening Purwati Parlon, dan Kusno Wibowo, yang mengulas krisis lingkungan global sekaligus langkah konkret yang telah dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menghadapi Triple Planetary Crisis

Dalam paparannya, Hening menjelaskan bahwa dunia tengah menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Perubahan iklim, menurutnya, banyak dipicu oleh meningkatnya bencana hidrometeorologi. Sementara polusi terjadi ketika zat berbahaya mencemari lingkungan melebihi ambang batas aman dan berdampak pada kesehatan makhluk hidup.

Ia juga menyoroti penurunan biodiversitas di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan.

“Betapa kayanya Indonesia, lalu yang terjadi saat ini sangat berkurang,” ujarnya.

Indonesia, lanjutnya, telah kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan—angka yang setara lebih dari seratus kali luas Kota Jakarta.

Hening menekankan bahwa persoalan lingkungan tidak semata isu teknis, tetapi juga menyangkut dimensi spiritual.

“Kita kembali kepada akidah, maka tauhid kita tercerminkan dalam tindakan,” tegasnya.

Sejak 2007, gerakan Teologi Lingkungan bersama Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dan Kementerian Lingkungan Hidup menginisiasi berbagai program, termasuk Gerakan 1000 Cahaya. Dalam dua tahun terakhir, program tersebut melibatkan ratusan kepala keluarga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), santri, dan guru dalam pelatihan efisiensi energi.

Audit energi yang dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping menunjukkan temuan menarik.

“Ternyata yang berat itu bukan di ruang operasi tetapi di ruang tempat makan dan laundry,” ungkapnya.

Hasil audit tersebut akan menjadi dasar rekomendasi efisiensi dan transisi energi di titik-titik yang dinilai boros.

DIY dan Tantangan Pengelolaan Sampah

Sementara itu, Kusno Wibowo yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY menyampaikan capaian positif bahwa Yogyakarta dinobatkan sebagai provinsi dengan pengelolaan hutan terbaik secara nasional pada 2025.

“Yogyakarta hutannya sebagai hutan terbaik se-Indonesia tahun 2025, tidak ada perusakan hutan dan alhamdulillah mendapat penghargaan,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan masih ada tantangan serius, seperti peningkatan volume sampah, penurunan kualitas air sungai akibat limbah domestik dan usaha, serta rendahnya kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

Permasalahan sampah menjadi perhatian utama karena sebagian besar masih bermuara di TPA Piyungan. Pemerintah DIY berencana mendesentralisasikan pengelolaan sampah ke kabupaten/kota dengan mempertimbangkan kapasitas zona tampung dan kesiapan fasilitas di masing-masing wilayah.

Ia juga mengajak masyarakat menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) sebagai langkah sederhana namun berdampak.

“Jangan lupa bapak ibu untuk menangani pengelolaan dan mengurangi sampah dengan 3R,” pesannya.

Data menunjukkan bahwa timbulan sampah terbesar di DIY berasal dari sisa makanan. Sehingga kebiasaan sederhana seperti menghabiskan makanan dan membawa tumbler dapat menjadi bagian dari solusi.

Sebagai langkah jangka panjang, DIY memprioritaskan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan. Inisiatif ini diharapkan mampu mengurangi beban sampah sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular.

Melalui kolaborasi pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat, restorasi lingkungan diharapkan menjadi gerakan nyata yang berkelanjutan—bukan sekadar wacana—demi masa depan yang lebih berdaya dan lestari.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*