WARTAPTM.ID, BANDUNG — Kecerdasan buatan (AI) semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi ini tak hanya membantu mencari informasi dan menyelesaikan pekerjaan. Namun, mulai digunakan untuk belajar, berdiskusi, hingga membantu mengambil keputusan.
Di tengah perkembangan tersebut, Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya mengingatkan pentingnya menggunakan AI secara kritis dan beretika. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI jangan sampai membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.
Pesan itu disampaikan Atalia saat menjadi pembicara kunci dalam Workshop Riset di Era AI: Strategi Riset dan Etika Akademik bagi Mahasiswa PTKI di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Bandung, Kamis (20/8/2026).
Atalia mengatakan perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan penggunaannya kini merambah berbagai bidang, termasuk kesehatan. Ia mencontohkan masyarakat yang mulai bertanya kepada AI mengenai penyakit maupun obat sebelum berkonsultasi dengan dokter.
“Bahkan ada yang sebelum berobat ke dokter berinteraksi dulu dengan AI mengenai penyakit dan perkiraan obatnya,” kata Atalia.
Menurutnya, fenomena tersebut memperlihatkan betapa mudahnya masyarakat mengakses AI. Berbagai platform seperti Gemini, ChatGPT, Claude, dan Perplexity juga menawarkan beragam fungsi yang dapat membantu pekerjaan sehari-hari.
AI, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk merangkum jurnal dan buku, menyusun atau merapikan informasi, hingga membantu mencari berbagai referensi. Kemudahan dan akses yang relatif murah membuat teknologi ini semakin cepat diterima masyarakat.
“Melihat fenomena AI hari ini, seakan-akan manusia tersisihkan. AI sudah menjadi teman akrab sehari-hari. Mereka juga ternyata bisa menjadi teman mengobrol,” ujarnya.
Meski demikian, Atalia menegaskan AI tetap memiliki keterbatasan. Teknologi tersebut tidak memiliki emosi, keteladanan, maupun nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.
AI juga tidak selalu menghasilkan informasi yang benar. Ketika data atau konteks yang tersedia tidak memadai, teknologi tersebut dapat memberikan jawaban keliru.
“AI bisa berbohong. Dia seperti gengsi mengatakan tidak tahu terhadap pertanyaan yang kita ajukan. Dia bisa mengarang-ngarang saja,” katanya.
Karena itu, Atalia meminta mahasiswa maupun masyarakat tidak menerima informasi dari AI secara mentah. Setiap jawaban perlu diverifikasi, dibandingkan dengan sumber yang kredibel, dan dipertimbangkan kembali sebelum digunakan.
“AI hanya alat dan teman diskusi untuk bertukar ide. Hasil AI tentu tidak bisa dilaksanakan seratus persen. Penggunaan harus disertai dengan etika,” tegasnya.
Atalia juga mendorong masyarakat terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk menghadapi kemunculan super AI. Menurutnya, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas manusia agar teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
Hal yang sama berlaku di perguruan tinggi. Dosen perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya agar mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus tetap relevan bagi mahasiswa yang semakin akrab dengan AI.
Atalia menilai kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan etika, agama, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Sebab, kecanggihan teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijak dalam menggunakannya. “AI tidak menggantikan akal dan kreativitas manusia,” ujarnya.
Atalia pun mengapresiasi UM Bandung yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk membahas AI tidak hanya dari sisi pemanfaatannya, tetapi juga dalam konteks riset dan etika akademik. Ia berharap kegiatan semacam itu terus dikembangkan melalui kolaborasi yang konstruktif.
Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengatakan workshop tersebut memberikan wawasan penting bagi mahasiswa, khususnya dalam memahami penggunaan AI untuk kegiatan penelitian.
Menurut Herry, perkembangan AI membuat pemahaman mengenai panduan dan etika penggunaannya semakin penting bagi sivitas akademika.
Oleh karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan agar mahasiswa tidak hanya mampu memanfaatkan AI, tetapi memahami batas, risiko, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Be the first to comment