UNIMUS dan UNDIP Perkuat Pendidikan Spesialis Keperawatan melalui Benchmarking

UNIMUS dan UNDIP Perkuat Pendidikan Spesialis Keperawatan melalui Benchmarking

WARTAPTM.ID, SEMARANG — Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) bertukar praktik baik dalam pengembangan pendidikan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah (KMB). Pertukaran tersebut dilakukan melalui kegiatan benchmarking Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UNDIP ke Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan UNIMUS, pada 19 Agustus 2026 lalu di Kampus UNIMUS.

Kegiatan ini menjadi forum bagi kedua perguruan tinggi untuk membahas pengelolaan program studi, penguatan kurikulum, pembelajaran akademik dan klinik, pengembangan kompetensi keperawatan spesialistik, serta peluang kolaborasi penelitian dan publikasi ilmiah.

Dari UNDIP, benchmarking diikuti Ketua Program Studi Magister Keperawatan Dr. Ns. Wahyu Hidayati, M.Kep., Sp.KMB., Dr. Ns. Fitria Handayani, M.Kep., Sp.KMB., dan Ice Septriani Saragih, S.Kep., Ns., M.Kep. Sementara dari UNIMUS, kegiatan didampingi Ketua Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah Dr. Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., bersama jajaran terkait.

Ketua Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, Yunie Armiyati, mengatakan benchmarking perlu ditempatkan sebagai proses pembelajaran bersama, bukan sekadar membandingkan tata kelola antarprogram studi.

“Benchmarking ini menjadi ruang untuk saling belajar dan bertukar praktik baik. Pendidikan spesialis keperawatan harus terus berkembang mengikuti kebutuhan pasien, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kompleksitas pelayanan kesehatan,” ujar Yunie.

Menurut Yunie, pendidikan Spesialis KMB tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan klinis tingkat lanjut. Kompetensi juga perlu mencakup praktik keperawatan berbasis bukti (evidence-based nursing), kepemimpinan klinis, pengambilan keputusan, riset, dan inovasi.

Penguatan kompetensi tersebut dinilai penting karena perawat spesialis KMB menghadapi pasien dewasa dengan kondisi akut maupun kronis, termasuk kasus dengan multimorbiditas dan kebutuhan perawatan yang kompleks.

Ketua Program Studi Magister Keperawatan UNDIP, Wahyu Hidayati, menyampaikan bahwa pertukaran pengalaman antarinstitusi dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan pendidikan keperawatan yang responsif terhadap kebutuhan profesi dan pelayanan kesehatan.

“Setiap institusi memiliki pengalaman, kekuatan, dan praktik baik yang dapat dipelajari bersama. Melalui benchmarking seperti ini, kami dapat memperoleh perspektif baru sekaligus mendiskusikan berbagai peluang pengembangan pendidikan keperawatan,” kata Wahyu.

Ia berharap komunikasi yang terbangun tidak berhenti pada kegiatan benchmarking, tetapi berkembang menjadi kolaborasi akademik yang memberikan manfaat bagi kedua institusi.

Peluang kerja sama tersebut antara lain penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar dan kuliah pakar, pertukaran pengalaman akademik, serta pengembangan kapasitas dosen dan jejaring pendidikan keperawatan spesialistik.

Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan UNIMUS, Dr. M. Fatkhul Mubin, M.Kep., Sp.Kep.J., juga menekankan pentingnya jejaring antarperguruan tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan tenaga kesehatan.

“Perguruan tinggi tidak dapat berkembang sendiri. Kolaborasi memungkinkan kita berbagi sumber daya, pengalaman, pengetahuan, dan inovasi,” ujarnya.

Ia berharap benchmarking antara UNDIP dan UNIMUS dapat menghasilkan tindak lanjut yang konkret, khususnya dalam penguatan pendidikan, penelitian, dan kompetensi perawat untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.

Pertemuan tersebut juga membuka peluang pengembangan kolaborasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari penelitian lintas institusi dan publikasi bersama hingga pengembangan inovasi keperawatan serta pengabdian kepada masyarakat.

Melalui jejaring akademik tersebut, pendidikan spesialis keperawatan diharapkan semakin terhubung dengan perkembangan ilmu, kebutuhan praktik klinis, dan persoalan kesehatan di masyarakat. Kolaborasi antarkampus juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas lulusan sekaligus kontribusi perguruan tinggi terhadap pelayanan kesehatan.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply