Universitas Muhammadiyah Malaysia Cetak Doktor Pertama, Bahas Penelitian Riset AI di Bidang Fintech

UMAM Cetak Doktor Pertama, Bahas Penelitian Riset AI di Bidang Fintech
Muhammad Sam’an Jadi Lulusan Doktor Pertama di Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM).

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Seorang dosen Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) bernama Muhammad Sam’an resmi menjadi lulusan doktor pertama dari Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) setelah menuntaskan ujian tesis pada 6 Mei 2026.

Capaian ini tidak hanya menjadi tonggak akademik personal, tetapi juga menandai peran strategis UMAM sebagai representasi internasional Muhammadiyah dalam bidang pendidikan tinggi.

Sam’an mengungkapkan bahwa keputusannya melanjutkan studi di UMAM tidak lepas dari arahan pimpinan kampus serta kepercayaan terhadap kualitas institusi tersebut.

“Awalnya saya belum berencana studi di luar negeri. Namun setelah mendapat arahan dari Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) untuk melanjutkan studi di UMAM, saya melihat ini sebagai peluang besar, terutama karena UMAM membawa nama Muhammadiyah di tingkat internasional,” ujarnya, Selasa (12/05).

Menurutnya, UMAM menawarkan lingkungan akademik yang kondusif dengan standar internasional, sekaligus tetap membawa nilai-nilai Muhammadiyah sebagai fondasi pendidikan.

“UMAM ini unik, karena menggabungkan standar pendidikan global dengan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Jadi bukan hanya mengejar akademik, tapi juga membangun karakter,” tambahnya.

Selama menempuh studi sejak April 2024 hingga Mei 2026, ia mendapatkan dukungan penuh dari institusi asalnya, Unimus, baik dari sisi pembiayaan maupun kebijakan akademik. Hal ini memperlihatkan sinergi kuat antar-PTMA dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Di tengah proses studi, ia juga tetap mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Informatika sejak September 2024. Tantangan dalam membagi waktu pun menjadi bagian dari perjalanan akademiknya.

“Selain menempuh studi doktoral di UMAM, saya juga diamanahi sebagai Kaprodi di Unimus, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri. Tapi dengan manajemen waktu yang baik dan dukungan dari supervisor, saya bisa menyelesaikan studi tepat waktu,” jelasnya.

Keberhasilan tersebut ditopang oleh produktivitas riset yang tinggi. Ia berhasil menghasilkan tiga publikasi pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus dan Web of Science (Q1 dan Q2), serta satu prosiding internasional terindeks Scopus.

Riset AI untuk Menjawab Tantangan Industri Keuangan Digital

Disertasi yang diangkat berjudul “An Enhanced Grey Wolf Optimization Algorithm for Feature Selection in Peer-to-Peer Lending Default Prediction”. Penelitian ini berangkat dari meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, khususnya peer-to-peer (P2P) lending, yang juga diiringi dengan tingginya risiko gagal bayar (default).

Dalam konteks tersebut, ia mengembangkan pendekatan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu meningkatkan akurasi dalam memprediksi risiko kredit.

“Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi prediksi default pada sistem peer-to-peer lending menggunakan metode optimasi berbasis kecerdasan alam,” jelasnya.

Muhammad Sam’an Jadi Lulusan Doktor Pertama di Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM).
Momen Muhammad Sam’an setelah menjalankan Sidang Tesis bersama Dosen dan Tim Penguji, (Rabu 6/5).

Secara lebih sederhana, riset ini mencoba menjawab pertanyaan penting di industri fintech: bagaimana cara menentukan calon peminjam yang berisiko gagal bayar secara lebih akurat dan lebih cepat.

Metode yang digunakan merupakan pengembangan dari algoritma Grey Wolf Optimization, yaitu algoritma yang terinspirasi dari perilaku sosial dan strategi berburu serigala di alam. Algoritma ini kemudian ditingkatkan (enhanced) untuk menyeleksi variabel-variabel penting (feature selection) dalam data peminjam, sehingga model prediksi menjadi lebih efisien dan akurat.

“Dengan seleksi fitur yang lebih optimal, sistem dapat bekerja lebih cepat dan menghasilkan prediksi yang lebih tepat, sehingga bisa membantu lembaga keuangan dalam mengambil keputusan,” imbuhnya.

Penelitian ini memiliki dua kontribusi utama. Dari sisi akademik, riset ini memperkaya pengembangan metode dalam bidang machine learning, computational intelligence, dan data science. Sementara dari sisi praktis, hasilnya dapat diimplementasikan dalam sistem industri keuangan digital untuk meningkatkan manajemen risiko.

“Harapannya, hasil penelitian ini tidak hanya berhenti di publikasi ilmiah, tetapi juga bisa diterapkan dalam sistem nyata, khususnya di industri fintech,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menilai keberadaan UMAM menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam memperluas jejaring pendidikan tinggi di tingkat global, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional.

“UMAM memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan riset dan pendidikan Muhammadiyah di level internasional. Ini peluang yang harus dimanfaatkan oleh dosen-dosen PTMA,” ujarnya.

Dorongan untuk Dosen dan Mahasiswa PTMA

Sam’an juga menyampaikan pesan khusus bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan PTMA yang memiliki keinginan melanjutkan studi hingga jenjang doktoral.

Menurutnya, kunci utama bukan hanya pada kecerdasan akademik, tetapi pada keberanian mengambil keputusan dan konsistensi dalam menjalani proses.

“Yang paling penting adalah keberanian untuk memulai. Jangan menunggu merasa siap, karena kesiapan itu justru akan terbentuk dalam proses,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya manajemen waktu dan komitmen, terutama bagi dosen yang memiliki tanggung jawab tambahan di kampus.

“Kalau sudah memutuskan studi doktoral, harus siap dengan konsekuensinya. Kuncinya ada di disiplin, konsistensi, dan kemampuan mengatur prioritas,” ujarnya.

Selain itu, ia mendorong sivitas akademika PTMA untuk memanfaatkan peluang studi di luar negeri, termasuk di UMAM, sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing global.

“Kesempatan untuk belajar di lingkungan internasional seperti UMAM harus dimanfaatkan. Ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk kemajuan institusi dan Muhammadiyah secara luas,” imbuhnya.

Ia pun berharap semakin banyak dosen PTMA yang mampu menembus jenjang doktoral dan berkontribusi melalui publikasi ilmiah bereputasi.

“Semoga ke depan semakin banyak dosen PTMA yang meraih gelar doktor dan aktif menghasilkan karya ilmiah internasional, sehingga bisa memperkuat posisi PTMA di tingkat global,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply