Paradoks Religiusitas di Era Digital dan Transformasi Ramadan

Paradoks Religiusitas di Era Digital dan Transformasi Ramadan
Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. pemateri ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, umat Islam tidak cukup hanya menjadi penonton dalam dinamika peradaban dunia. Perubahan sosial yang cepat, konflik global, hingga krisis kemanusiaan justru menjadi tantangan sekaligus peluang bagi umat Islam untuk menghadirkan solusi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Gagasan ini disampaikan oleh Ahmad Muttaqin, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, dalam ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Sabtu, 7 Maret 2026. Dalam ceramah tersebut, ia mengajak umat Islam—khususnya kalangan akademisi—untuk menghadirkan wajah Islam yang benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin di tengah tantangan global.

Paradoks Religiusitas di Ruang Digital

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat religiositas yang tinggi. Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia mengaku rajin berdoa dan meyakini peran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, tingginya religiositas tersebut justru menghadirkan ironi ketika berhadapan dengan realitas di ruang digital. Indeks Keadaban Digital (Digital Civility Index) yang dirilis Microsoft menempatkan warganet Indonesia sebagai salah satu yang paling tidak beradab di kawasan Asia Pasifik.

Fenomena ini terlihat dari maraknya penyebaran hoaks, penipuan digital, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial yang tajam di media sosial. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana praktik keberagamaan mampu membentuk etika dan keadaban dalam kehidupan sosial, termasuk di ruang digital?

Menurut Muttaqin, umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk membawa nilai-nilai akhlak ke dalam ruang digital, sehingga dunia maya tidak berubah menjadi arena konflik dan permusuhan.

Islam Berkemajuan sebagai Visi Peradaban

Untuk merespons tantangan global tersebut, Muttaqin menegaskan pentingnya menghidupkan visi Islam Berkemajuan sebagaimana dirumuskan dalam keputusan Muktamar Muhammadiyah Surakarta.

Visi ini menegaskan bahwa pengabdian Muhammadiyah tidak hanya terbatas pada lingkup keumatan, tetapi juga meliputi kebangsaan, kemanusiaan, masyarakat global, serta masa depan peradaban.

Dalam konteks ini, umat Islam memerlukan dua fondasi utama.

Pertama, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan peradaban modern menunjukkan bahwa inovasi dan penguasaan IPTEK menjadi faktor penting dalam menentukan posisi suatu bangsa di panggung global.

Kedua, aksi kemanusiaan yang nyata. Muhammadiyah telah menunjukkan komitmen tersebut melalui berbagai program kemanusiaan internasional, termasuk tim kesehatan darurat (Emergency Medical Team) yang telah memperoleh sertifikasi dari World Health Organization.

Melalui langkah-langkah konkret seperti ini, umat Islam dapat tampil sebagai aktor yang memberikan kontribusi nyata bagi kemanusiaan global.

Ramadan sebagai Ruang Transformasi

Dalam kerangka pembangunan peradaban tersebut, bulan Ramadan memiliki peran strategis sebagai ruang transformasi diri.

Muttaqin menjelaskan bahwa Ramadan dapat dimaknai melalui tiga dimensi transformasi utama.

Pertama, transformasi spiritual. Ibadah seperti qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, dan iktikaf menjadi sarana untuk memperdalam hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus memperkuat kualitas keimanan.

Kedua, transformasi intelektual. Interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada pembacaan teks, tetapi perlu ditingkatkan menjadi proses tadabur yang melahirkan pemahaman dan tindakan nyata.

Sejarah Muhammadiyah menunjukkan contoh penting melalui pemikiran Ahmad Dahlan, yang menafsirkan Surah Al-Ma’un tidak hanya sebagai pesan teologis, tetapi juga sebagai dorongan untuk membangun gerakan sosial melalui pendirian rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan.

Ketiga, transformasi sosial. Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama puasa seharusnya menumbuhkan empati terhadap kelompok masyarakat yang termarginalkan, sehingga melahirkan kepedulian dan solidaritas sosial.

Menghidupkan Makna Beragama

Pada akhirnya, keberagamaan tidak berhenti pada ritual. Ia harus melahirkan tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Dalam refleksi sejarah, Ahmad Dahlan pernah memaknai kata “agama” sebagai sesuatu yang harus “didirikan” dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Makna ini mengandung pesan mendalam bahwa beragama bukan sekadar keyakinan personal, melainkan komitmen untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sosial.

Dengan integrasi antara keimanan, keadaban digital, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kepedulian sosial, umat Islam Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai aktor yang berkontribusi dalam membangun peradaban masa depan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*