Rektor Umsida: Kepemimpinan Kepala Sekolah Jadi Fondasi Kemajuan Pendidikan

Rektor Umsida Kepemimpinan Kepala Sekolah Jadi Fondasi Kemajuan Pendidikan
Rektor Umsida Kepemimpinan Kepala Sekolah Jadi Fondasi Kemajuan Pendidikan.

WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menjadi tuan rumah kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi kepala sekolah jenjang SD Negeri se-Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan yang berlangsung dalam beberapa sesi sejak April tersebut resmi ditutup pada Senin, 18 Mei 2026, di Aula Mas Mansyur Kampus 1 Umsida.

Penutupan kegiatan diisi langsung oleh Rektor Umsida,  Hidayatulloh, yang menyampaikan materi tentang pentingnya kepemimpinan kepala sekolah dalam mendorong kemajuan pendidikan.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan

Dalam paparannya bertajuk “Kepala Sekolah yang Menggerakkan: Mewujudkan Transformasi Pendidikan Berkemajuan,” Hidayatulloh menegaskan bahwa kepemimpinan di sekolah tidak cukup hanya berorientasi pada aspek administratif. Lebih dari itu, kepala sekolah harus mampu menjadi motor penggerak perubahan.

“Sekolah akan berkembang jika tata kelolanya berjalan baik, dan itu sangat ditentukan oleh kepemimpinan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam sebuah organisasi, manajemen menjadi inti pengelolaan, sementara kepemimpinan merupakan inti dari manajemen itu sendiri. Dalam konteks sekolah, posisi kepala sekolah menjadi sangat strategis karena berperan menggerakkan seluruh sumber daya pendidikan.

Berbekal pengalaman sebagai kepala sekolah selama delapan tahun, ia menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar status formal.

“Kepemimpinan itu tindakan, bukan posisi. Tidak cukup hanya menerima SK, tetapi harus ada aksi nyata di sekolah,” tegasnya.

Ia juga mengutip pandangan John C. Maxwell bahwa pemimpin adalah sosok yang mengetahui arah, menunjukkan jalan, dan berjalan bersama dalam mencapai tujuan.

“Keberhasilan sekolah tidak boleh hanya diketahui kepala sekolah. Semua warga sekolah harus memahami arah yang sama,” jelasnya.

Menurutnya, kepala sekolah harus mampu menerjemahkan visi menjadi langkah konkret, mulai dari misi, tujuan, hingga program kerja yang terukur. Visi tersebut perlu diturunkan dalam bentuk tahapan capaian (milestone) agar mudah dipahami dan dijalankan bersama.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kerja tim dalam menjalankan organisasi sekolah. Seluruh elemen—kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, komite, hingga orang tua—harus bergerak dalam satu arah.

Tata Kelola dan Adaptasi di Era Kompetisi

Dalam konteks persaingan pendidikan yang semakin terbuka, Hidayatulloh juga menyoroti pentingnya tata kelola yang adaptif, termasuk dalam hal branding dan marketing sekolah.

“Sekarang masyarakat punya banyak pilihan. Sekolah harus mampu membangun kepercayaan melalui layanan dan citra yang baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan sistem informasi sekolah untuk meningkatkan transparansi dan layanan kepada orang tua.

“Orang tua ingin mendapatkan informasi cepat tentang perkembangan anaknya. Ini menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa kemajuan sekolah sangat ditentukan oleh kekuatan tim yang solid. Ia merumuskan prinsip 5K sebagai fondasi kerja bersama, yakni kompak, kokoh, kontribusi, konsistensi, dan komitmen.

“Pemimpin harus mampu menyatukan perbedaan dan mencari titik temu, bukan memperbesar konflik,” jelasnya.

Menurutnya, komunikasi menjadi kunci utama dalam kepemimpinan. Komunikasi yang baik akan menciptakan suasana kerja yang sehat dan mendukung tercapainya tujuan organisasi.

“Kalau komunikasi tersendat, kepemimpinan juga tidak akan berjalan efektif,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Hidayatulloh menegaskan bahwa kepala sekolah yang menggerakkan adalah mereka yang hadir di tengah-tengah warga sekolah, memberi teladan, serta mampu menginspirasi dan memberdayakan.

“Pemimpin yang benar-benar menggerakkan akan selalu dikenang, bahkan setelah masa jabatannya berakhir,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply