WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah terus mendorong penguatan budaya riset di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Salah satunya melalui peningkatan partisipasi dosen dalam program pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2026.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Penyusunan Proposal RIIM BRIN 2026 pada Sabtu (16/5), yang menghadirkan para narasumber berpengalaman guna membekali dosen dengan strategi menyusun proposal kompetitif. Kegiatan ini menjadi momentum penting mengingat batas akhir pengajuan proposal akan ditutup pada 31 Juli 2026.
Dalam pemaparannya, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tri Yuni Hendrawati, menegaskan bahwa skema pendanaan RIIM memiliki karakteristik yang menekankan pada luaran riset yang jelas dan terukur.
Menurutnya, proposal RIIM memberikan ruang fleksibilitas bagi peneliti untuk mengembangkan gagasan inovatif, berbeda dengan skema hibah lain yang cenderung administratif. Namun demikian, setiap proposal tetap dituntut berorientasi pada hasil nyata.
“Riset yang diajukan harus produktif dan berbasis luaran. Mulai dari perencanaan hingga anggaran harus selaras dengan target hasil yang akan dicapai,” ujarnya.
Adapun luaran yang diwajibkan dalam skema ini antara lain publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi minimal Q3, serta luaran kekayaan intelektual seperti paten, paten sederhana, atau Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Untuk efektivitas waktu, peneliti disarankan dapat memprioritaskan paten sederhana yang proses pengajuannya relatif lebih cepat.
Selain itu, aspek kebaruan (novelty) dan manfaat riset menjadi poin penting dalam penilaian proposal. Peneliti diharapkan mampu menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan maupun solusi bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ilham Habibi, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Magelang yang telah berhasil memperoleh pendanaan RIIM, menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kunci keberhasilan, terutama bagi dosen yang masih memiliki keterbatasan rekam jejak penelitian.
Ia mendorong para peneliti untuk bergabung dalam kelompok riset (research group) yang telah memiliki peta jalan penelitian yang jelas, termasuk menjalin kerja sama dengan BRIN maupun perguruan tinggi lain.
“Kolaborasi menjadi jalan strategis untuk memperkuat kualitas riset. Selain meningkatkan kredibilitas tim, kerja sama dengan BRIN juga membuka akses terhadap fasilitas laboratorium yang memadai,” jelasnya.
Pendekatan kolaboratif juga dinilai penting untuk pengembangan riset lintas disiplin, termasuk dalam bidang sosial humaniora yang dapat diintegrasikan dengan ilmu lain seperti teknologi informasi dan ekonomi.
Sementara itu, dalam aspek perencanaan anggaran, skema RIIM menuntut penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang berbasis luaran dan disusun sesuai standar yang telah ditetapkan. Pendanaan dapat diajukan hingga tiga tahun dengan mekanisme pencairan yang relatif fleksibel.
Untuk pengajuan di bawah Rp250 juta per tahun, dana dapat dicairkan secara penuh tanpa skema termin. Namun, terdapat sejumlah komponen yang tidak diperkenankan dalam anggaran, seperti biaya manajemen institusi, perjalanan dinas luar negeri, serta pengeluaran non-esensial lainnya.
Majelis Diktilitbang menilai bahwa peluang hibah RIIM harus dimanfaatkan secara optimal oleh dosen PTMA sebagai bagian dari penguatan ekosistem riset berkemajuan. Hingga saat ini, kontribusi PTMA dalam perolehan hibah RIIM nasional masih perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, para dosen didorong untuk segera mempersiapkan proposal sejak dini, termasuk melakukan konsolidasi tim riset dan penyusunan roadmap penelitian yang berkelanjutan.
Melalui penguatan riset berbasis inovasi ini, Muhammadiyah diharapkan semakin berperan dalam menghasilkan karya ilmiah dan produk teknologi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi PTMA sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan pengembangan peradaban.
Be the first to comment