WARTAPTM.ID, BENGKULU — Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Moh. Mudzakkir, menegaskan bahwa wisuda bukanlah sekadar seremoni akademik semata, melainkan momentum peneguhan tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara Wisuda Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) yang diselenggarakan pada Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, di tengah dunia yang bergerak sangat cepat akibat revolusi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan disrupsi ekonomi, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan manusia yang matang secara moral dan memiliki kepedulian kemanusiaan.
Lebih lanjut, dengan mengutip pemikiran sosiolog Perancis, Pierre Bourdieu, Mudzakkir mengingatkan para wisudawan bahwa perguruan tinggi adalah ruang untuk mengakumulasi empat modal penting untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Keempat modal tersebut meliputi modal intelektual (penguasaan ilmu pengetahuan), modal sosial (jaringan dan relasi), modal ekonomi (keterampilan untuk kesejahteraan), serta modal simbolik (reputasi, integritas, dan moralitas).
“Pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia berkemajuan yang mampu memadukan keilmuan, moralitas, kepemimpinan, dan pengabdian sosial dalam satu tarikan nafas peradaban,” tegasnya.
Mudzakkir juga menyampaikan pesan spiritual dari Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan kedudukan mulia orang-orang berilmu dan beriman, serta hadis Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Berangkat dari nilai-nilai tersebut, seorang akademisi tidak boleh berhenti pada pencapaian gelar, melainkan harus menjadikan ilmunya sebagai jalan pengabdian.
Menutup pesannya, Mudzakkir mengutip pernyataan tokoh dunia Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Ia mengajak para lulusan UMB untuk tidak sekadar menjadi pengguna ilmu pengetahuan, melainkan agen perubahan di masyarakat.
“Jadilah generasi yang mampu memadukan keunggulan akademik, kecanggihan teknologi, moralitas, dan kepedulian sosial dalam satu tarikan nafas peradaban,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mudzakkir juga memaparkan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) saat ini terus berkembang sebagai kekuatan penting dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Hingga Mei 2026, tercatat terdapat 164 PTMA dengan lebih dari 2.500 program studi dan sekitar 677 ribu mahasiswa di seluruh penjuru Tanah Air.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya membangun lembaga pendidikan, tetapi juga membangun ekosistem ilmu pengetahuan, dakwah pencerahan, dan kemajuan bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peningkatan kualitas PTMA yang dibuktikan dengan pencapaian 21 institusi berakreditasi Unggul serta lahirnya lebih dari 470 profesor di lingkungan PTMA. UMB, lanjutnya, merupakan bagian penting dari gerakan besar tersebut yang terus berkomitmen mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya di Bengkulu dan kawasan Sumatera.
Be the first to comment