WARTAPTM.ID, ENDE – Keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores, tidak menyurutkan langkah dr. Muhamad Ibrahim Sengaji untuk terus mengabdi. Dokter lulusan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini kini dipercaya memimpin Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah Ende sebagai direktur.
Pria yang akrab disapa Baim tersebut menapaki perjalanan panjang sejak masa pendidikan hingga akhirnya kembali ke daerah asalnya untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat dan mudah diakses masyarakat.
Lahir di Larantuka, Flores Timur, Baim menempuh pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah di berbagai daerah sebelum melanjutkan studi kedokteran di Universitas Muhammadiyah Malang. Perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mulus. Saat menjalani masa pendidikan profesi (koas), ia sempat menghadapi keterbatasan ekonomi yang cukup berat.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Baim bekerja sebagai marbot masjid. Ia menjalankan berbagai tugas, mulai dari membersihkan masjid hingga mengumandangkan azan. Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh fasilitas makan yang sangat membantu keberlangsungan studinya.
“Waktu itu yang saya pikirkan hanya bagaimana bisa bertahan dan menyelesaikan pendidikan. Selama itu halal, saya jalani,” kenangnya, Senin (1/6).
Pengalaman hidup sederhana tersebut justru membentuk ketangguhan dan semangat juangnya. Di tengah keterbatasan, ia tetap memegang cita-cita besar untuk membangun layanan kesehatan yang lebih baik di tanah kelahirannya.
Kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan yang memadai di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu dorongan utama. Ia melihat masih banyak masyarakat yang harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.
Inspirasi untuk mewujudkan cita-cita tersebut semakin kuat saat ia menjalani pendidikan di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan. Pengalaman melihat perkembangan layanan kesehatan berbasis Muhammadiyah dari klinik hingga menjadi rumah sakit besar memberikan gambaran nyata tentang potensi yang bisa diwujudkan di daerah.
Sejak saat itu, Baim menanamkan tekad untuk menghadirkan layanan serupa di Nusa Tenggara Timur. Mimpi tersebut ia pegang teguh meski berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya, persoalan lokasi, hingga dukungan pendanaan.
Sebelum dipercaya memimpin Klinik Muhammadiyah Ende, Baim telah mengabdikan diri di berbagai wilayah NTT. Ia pernah menjalani program internship di RSUD Ngada, bertugas sebagai dokter PTT di sejumlah puskesmas, hingga mengikuti Program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman langsung mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Banyak masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan yang lebih dekat dan berkualitas. Itu yang terus mendorong saya untuk kembali dan berkontribusi di daerah sendiri,” ujarnya.
Selain menjalankan peran sebagai dokter dan pimpinan klinik, Baim juga aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah Muhammadiyah. Ia terlibat dalam Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) serta Lazismu di tingkat daerah.
Baginya, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari pengabdian kepada kemanusiaan. Prinsip tersebut ia pegang dalam setiap langkah pengabdiannya di bidang kesehatan.
Perjalanan hidup dr. Muhamad Ibrahim Sengaji menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dari seorang mahasiswa yang pernah bertahan hidup sebagai marbot masjid, kini ia hadir di garis depan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah timur Indonesia.
Be the first to comment