WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Harun Joko Prayitno, menegaskan bahwa mahasiswa merupakan elemen paling vital dalam keberlangsungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Ia menyebut mahasiswa sebagai kunci utama penggerak seluruh aktivitas akademik kampus.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Rabu (15/7/2026). Dalam paparannya, Harun menekankan bahwa PTMA sebagai perguruan tinggi swasta memiliki karakter berbeda dengan perguruan tinggi negeri yang didukung anggaran negara. PTMA, menurutnya, bertumpu pada kepercayaan masyarakat yang diwujudkan melalui kehadiran mahasiswa.
“Bapak dan Ibu boleh bicara riset atau catur dharma. Namun semua itu tidak akan berjalan kalau tidak ada mahasiswa. Mahasiswa adalah modal utama kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan konsep “Inputing-Duiting”, yakni hubungan erat antara jumlah mahasiswa dengan kekuatan finansial institusi dalam mendukung operasional dan inovasi kampus.
Selain aspek mahasiswa, Harun juga menyoroti pentingnya keberanian pimpinan dalam melakukan terobosan tata kelola. Ia menyebut perlunya strategi taktis atau “jalan tikus” untuk mempercepat capaian reputasi institusi.
Menurutnya, langkah seperti pemetaan program studi sebelum pengajuan akreditasi dapat menjadi strategi efektif agar tidak menghambat nilai institusi secara keseluruhan.
“Kadang-kadang tata kelola perguruan tinggi memang perlu ‘jalan tikus’. Kita harus berani keluar dari pakem administratif untuk melompat lebih jauh,” ujarnya.
Harun juga menyinggung pentingnya penguatan reputasi ilmiah melalui kolaborasi internal. Ia mengajak pimpinan dan dosen untuk membangun budaya “Gendong-Gandeng”, di mana akademisi senior membantu meningkatkan kualitas publikasi rekan lainnya.
Menurutnya, reputasi perguruan tinggi tidak dapat dibangun secara individual, melainkan melalui kerja kolektif yang saling menguatkan.
“Mari kita saling gendong dan gandeng. Reputasi perguruan tinggi adalah urusan bersama,” tambahnya.
Dalam sesi tersebut, Harun juga mengingatkan pentingnya etos kepemimpinan yang melayani. Ia berpesan agar pimpinan tidak mempersulit urusan administratif, baik bagi mahasiswa maupun dosen.
“Kalau jadi pemimpin jangan susah tanda tangan. Ojo angel-angel. Tugas pemimpin itu melayani,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya kedekatan emosional pimpinan dengan institusi, termasuk memantau perkembangan kampus secara rutin melalui media digital sebagai bagian dari strategi branding.
Menutup sesinya, Harun memperkenalkan berbagai inisiatif promosi digital yang dikembangkan untuk memperluas publikasi prestasi dosen dan kampus secara lebih masif.
Be the first to comment