WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Pemanfaatan bahan alam Indonesia terus membuka peluang bagi pengembangan inovasi di bidang kesehatan. Hal tersebut mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengembangkan nanogel berbahan kombinasi albumin ikan gabus dan ekstrak Aloe vera sebagai bagian dari penelitian regenerasi jaringan pada kasus luka bakar.
Penelitian bertajuk “Inovasi Nanogel Kombinasi Albumin Channa striata dengan Ekstrak Aloe vera untuk Menstimulasi Regenerasi Sel Dermal Kasus Luka Bakar Secara In Vivo” tersebut memadukan potensi sumber daya hayati dengan teknologi sediaan farmasi modern.
Tim REGENOCA mengembangkan kombinasi albumin ikan gabus (Channa striata) dan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) dalam bentuk nanogel. Sediaan tersebut kemudian diteliti untuk mengevaluasi potensinya dalam menstimulasi regenerasi sel dermal pada kasus luka bakar melalui pengujian in vivo.
Penelitian ini berangkat dari tantangan pemulihan luka bakar yang tidak hanya berkaitan dengan kerusakan permukaan kulit, tetapi juga proses regenerasi jaringan. Luka bakar dapat meningkatkan risiko infeksi dan dalam kondisi tertentu berpotensi meninggalkan jaringan parut yang memengaruhi kualitas hidup.
Karena itu, penelitian mengenai bahan dan teknologi yang dapat mendukung proses regenerasi jaringan menjadi salah satu bidang yang terus dikembangkan.
Padukan Bahan Alam dan Teknologi Nanogel
Dalam penelitian tersebut, albumin dari ikan gabus dan ekstrak Aloe vera menjadi dua bahan utama yang dikombinasikan dalam formulasi nanogel.
Ikan gabus dipilih sebagai sumber albumin, sementara Aloe vera merupakan tanaman yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan dalam berbagai produk berbasis bahan alam. Keduanya kemudian dikembangkan dalam bentuk sediaan nanogel sebagai pendekatan teknologi farmasi.
Penggunaan nanogel menjadi bagian penting dalam penelitian ini karena memungkinkan bahan aktif dikembangkan dalam suatu sistem penghantaran berbasis gel dengan pendekatan teknologi berukuran nano.
Melalui kombinasi tersebut, Tim REGENOCA tidak hanya mengeksplorasi potensi masing-masing bahan alam, tetapi juga mengkaji bagaimana keduanya dapat diformulasikan menjadi suatu sediaan yang kemudian diuji secara ilmiah.
Penelitian ini menjadi contoh bagaimana kekayaan hayati Indonesia dapat dipertemukan dengan perkembangan teknologi farmasi untuk menghasilkan inovasi yang dapat diteliti lebih lanjut.
Penelitian Tim REGENOCA dilaksanakan pada Mei hingga Agustus 2026 dengan melibatkan mahasiswa dari bidang farmasi dan biologi.
Tim tersebut diketuai Yurika Shifa Tuzzahra, bersama Nurmala Ayu Azzahra, Shasqik Alfida Danin Djati Wicaksana, dan Berliana Putri Rahmadani dari Fakultas Farmasi UAD. Tim juga melibatkan Nanda Putri Kinasih dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD.
Penelitian ini berada di bawah bimbingan Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD.
Keterlibatan mahasiswa dari dua bidang keilmuan tersebut memperkuat pendekatan lintas disiplin dalam penelitian. Farmasi berperan dalam pengembangan dan formulasi sediaan, sementara perspektif biologi mendukung kajian yang berkaitan dengan proses biologis dan regenerasi jaringan.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menghasilkan penelitian yang tidak hanya memanfaatkan bahan alam, tetapi juga mengujinya melalui pendekatan ilmiah dan teknologi yang relevan.
Langkah Awal Menuju Inovasi Farmasi Berbasis Bahan Alam
Tim REGENOCA berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal bagi pengembangan riset lebih lanjut mengenai pemanfaatan bahan alam untuk mendukung regenerasi jaringan pada kasus luka bakar.
Pengujian in vivo menjadi bagian penting untuk memperoleh data ilmiah mengenai potensi kombinasi albumin Channa striata dan ekstrak Aloe vera dalam formulasi nanogel. Hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar bagi kajian lanjutan sebelum suatu inovasi dapat dikembangkan menuju tahap aplikasi yang lebih luas.
Bagi UAD, penelitian ini sekaligus menunjukkan ruang pengembangan inovasi mahasiswa melalui pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia dan teknologi modern.
Lebih dari sekadar menghasilkan formulasi baru, riset tersebut memperlihatkan bagaimana potensi bahan alam dapat diolah menjadi pertanyaan ilmiah, diuji melalui penelitian, dan dikembangkan secara bertahap menuju inovasi yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, ikan gabus dan lidah buaya tidak hanya dipandang sebagai sumber daya alam yang telah dikenal masyarakat, tetapi juga sebagai objek penelitian yang dapat membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi farmasi berbasis bahan alam.
Be the first to comment