WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Lima dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) masuk dalam daftar Top 2% Scientist Worldwide 2026 yang disusun berdasarkan indikator dampak penelitian oleh tim peneliti dari Stanford University dan dipublikasikan melalui Elsevier. Pencapaian ini menandai kiprah akademisi UAD dalam menghasilkan karya ilmiah yang mendapat perhatian dalam literatur akademik internasional.
Kelima dosen tersebut berasal dari bidang teknologi industri, pendidikan, farmasi, dan kesehatan masyarakat. Mereka adalah Alfian Ma’arif dan Tole Sutikno dari Fakultas Teknologi Industri, Rully Charitas Indra Prahmana dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Lalu Muhamad Irham dari Fakultas Farmasi, serta Solikhah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Daftar Top 2% Scientist Worldwide menggunakan indikator bibliometrik untuk mengukur dampak karya ilmiah peneliti. Indikator tersebut antara lain mencakup jumlah sitasi dan indeks yang menggambarkan pengaruh publikasi seorang peneliti dalam literatur akademik.
Pemeringkatan ini mencakup beragam bidang dan subbidang keilmuan sehingga peneliti dinilai dalam konteks disiplin ilmunya masing-masing. Data yang digunakan juga dapat menggambarkan kinerja sepanjang karier maupun dalam periode tertentu, bergantung pada kategori pemeringkatan yang dirilis.
Karena itu, masuknya seorang peneliti dalam daftar tersebut perlu dipahami sebagai pengakuan berdasarkan indikator dampak sitasi yang digunakan, bukan sebagai satu-satunya tolok ukur kualitas atau kontribusi akademik.
Bagi UAD, pencapaian lima dosen dari beberapa disiplin ilmu ini menjadi bagian dari upaya penguatan budaya riset dan publikasi ilmiah. Pengembangan penelitian, kolaborasi akademik, serta diseminasi hasil riset menjadi aspek penting agar perguruan tinggi dapat memperluas kontribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Melalui riset yang berkelanjutan, perguruan tinggi juga memiliki peluang untuk menghubungkan pengembangan ilmu dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, pengakuan internasional terhadap karya ilmiah dapat menjadi momentum untuk terus memperkuat kualitas penelitian dan memperluas manfaatnya.

Be the first to comment