AIK di PTMA Didorong Jadi Nilai Universal yang Inklusif dan Kontekstual

AIK di PTMA Didorong Jadi Nilai Universal yang Inklusif dan Kontekstual
AIK di PTMA Didorong Jadi Nilai Universal yang Inklusif dan Kontekstual.

WARTAPTM.ID, MAUMERE — Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai fondasi pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) didorong untuk tidak dipahami secara sempit. Sebaliknya, AIK perlu dihadirkan sebagai nilai universal yang inklusif dan mampu menjembatani keberagaman.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Suyadi, dalam momentum pelantikan Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) pada 30 Mei 2026 di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dalam konteks PTMA di kawasan Indonesia Timur yang memiliki latar sosial-budaya dan keagamaan yang beragam, AIK dinilai memiliki peran strategis sebagai titik temu nilai, bukan sekadar identitas formal kelembagaan.

“AIK tidak boleh disempitkan sebagai doktrin yang kaku dan ritualistik, melainkan harus dihadirkan sebagai nilai-nilai universal yang mampu menjembatani perbedaan, seperti kemanusiaan, etika, keadilan, toleransi, dan semangat persaudaraan,” ujar Suyadi.

Ia menegaskan, pendekatan pembelajaran AIK di perguruan tinggi perlu terus dikembangkan agar lebih kontekstual, adaptif, dan inklusif. Hal ini penting agar AIK dapat diterima oleh seluruh mahasiswa, tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya.

Menurutnya, pengajaran AIK tidak cukup hanya bertumpu pada pendekatan normatif-teologis, tetapi juga perlu diperkaya dengan perspektif sosiologis, historis, ilmiah, dan empiris. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami ajaran Islam secara rasional, terbuka, dan relevan dengan dinamika masyarakat modern.

“Pembelajaran AIK harus mampu menghadirkan Islam sebagai ajaran yang hidup, dialogis, dan solutif terhadap persoalan kemanusiaan,” tegasnya.

Dalam konteks kampus yang inklusif, Suyadi juga menyoroti pentingnya pendekatan yang tepat bagi mahasiswa non-Muslim. Ia menekankan bahwa pembelajaran AIK bagi mereka tidak diarahkan pada aspek ritual, melainkan pada nilai-nilai universal yang memperkaya wawasan kebangsaan dan kemanusiaan.

“Bagi mahasiswa non-Muslim, AIK tidak difokuskan pada praktik keagamaan, tetapi pada nilai-nilai universal yang memperluas perspektif mereka tentang kemanusiaan dan kebangsaan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Timur, Abdul Majid. Ia menilai AIK harus tetap menjadi core value PTMA, namun implementasinya perlu dilakukan secara terbuka dan inklusif agar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh sivitas akademika.

Sementara itu, Rektor UNIMOF, Gunawan Suryoputro, menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi ke depan. Ia berharap para Wakil Rektor yang baru dilantik mampu menjadi motor penggerak dalam peningkatan mutu akademik dan penguatan peran institusi.

“Tantangan ke depan menuntut kepemimpinan yang inovatif dan kolaboratif. Wakil Rektor harus menjadi penggerak dalam penguatan kualitas akademik, perluasan kerja sama, serta pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Gunawan.

Be the first to comment

Leave a Reply