WARTAPTM.ID, INGGRIS – Muhammadiyah memperluas jejaring internasional dengan menjajaki kerja sama bersama sejumlah lembaga strategis di Inggris, termasuk University of Cambridge dan Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS).
Penjajakan tersebut dilakukan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia dalam rangkaian agenda di Inggris setelah menghadiri Pengukuhan PCIM Britania Raya dan Irlandia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di London, Sabtu (22/8/2026).
Syafiq mengatakan, sejumlah peluang kerja sama yang dibicarakan mencakup pendidikan tinggi, program beasiswa bagi kader Muhammadiyah, interfaith, hingga isu krisis iklim.
“Berbagai macam kemungkinan kerja sama dilakukan termasuk juga berbagai program interfaith dan climate crisis. Kemudian kami juga merencanakan adanya kemungkinan pemberian beasiswa kepada kader-kader Muhammadiyah,” ujar Syafiq dalam sesi doorstop bersama tim media PCIM Britania Raya dan Irlandia, Selasa (25/8/2026).
Selain Cambridge, Muhammadiyah juga melakukan penjajakan dengan Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan Muhammadiyah dengan pusat kajian Islam dan lembaga pendidikan tinggi di tingkat global.
Syafiq menilai OCIS memiliki posisi penting dalam pengembangan kajian Islam dan memiliki reputasi internasional.
“Kami juga berada di Oxford University, tepatnya di Oxford Centre for Islamic Studies. Tentunya kami membicarakan beberapa hal yang relevan dengan Muhammadiyah, khususnya perguruan tinggi,” jelasnya.
Menurut Syafiq, pertemuan tersebut membuka peluang pengembangan hubungan yang lebih luas, terutama dalam bidang pendidikan tinggi dan kajian Islam. Bagi PTMA, jejaring tersebut berpotensi menjadi ruang pengembangan kolaborasi akademik, pertukaran pengetahuan, serta peluang penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Penjajakan kerja sama Muhammadiyah di Inggris tidak hanya menyasar lembaga pendidikan. Muhammadiyah juga membuka komunikasi dengan East London Mosque dan Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO). Ruang kerja sama yang dibicarakan mencakup isu interfaith dan climate crisis, selain peluang beasiswa bagi kader Muhammadiyah.
Di sela rangkaian agenda, Syafiq juga bertemu diaspora Indonesia dan kader Muhammadiyah di London melalui pengajian bertajuk “Hidup Berkemajuan tanpa Kehilangan Akar: Teladan Nabi di Zaman yang Berubah” di Indonesia Islamic Center (IIC) London.
“Tentu ini sangat menggembirakan karena kami bertemu warga Indonesia, warga Muhammadiyah di Inggris untuk melaksanakan pengajian bersama dan merasakan kuliner khas Indonesia,” tutur Syafiq.
Rangkaian agenda tersebut sekaligus memperlihatkan peran PCIM sebagai penghubung jejaring Muhammadiyah di luar negeri. Melalui hubungan dengan lembaga pendidikan, pusat kajian Islam, pemerintah, dan komunitas diaspora, Muhammadiyah berupaya membangun kolaborasi yang dapat dikembangkan menjadi program konkret. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat jejaring internasional Muhammadiyah, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan pendidikan tinggi, riset, kaderisasi, dakwah, isu kemanusiaan, dan kontribusi Muhammadiyah dalam percaturan global.
Be the first to comment