Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H. Pada malam kedelapan Ramadan, Rabu, 25 Februari 2026, ceramah tarawih menghadirkan Prof. Dr. Suyadi, M.Pd.I., Kepala Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam UAD sekaligus pimpinan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Dalam kajiannya bertema “Neurosains Ibadah: Bagaimana Puasa dan Zikir Mengubah Struktur Otak dan Perilaku Manusia”, ia memaparkan keterkaitan antara praktik ibadah dan temuan mutakhir dalam bidang neurosains.
Prof. Suyadi mengawali penjelasan dengan mengulas Surah Ali Imran ayat 190–191 tentang konsep Ulul Albab. Ia menegaskan bahwa Ulul Albab tidak sekadar merujuk pada kecerdasan rasional, tetapi pada kemampuan berpikir mendalam yang disertai kejernihan hati.
Menurutnya, perenungan atas ciptaan Allah Swt. yang dilakukan secara konsisten akan membentuk pola pikir reflektif dan sikap hidup yang lebih bijaksana.
Lebih lanjut, ia mengaitkan konsep tersebut dengan kajian neuroteologi atau spiritualitas otak. Berdasarkan riset pencitraan otak, aktivitas ibadah diketahui memengaruhi bagian tertentu dalam otak yang mengalami peningkatan aliran darah dibandingkan aktivitas biasa. Ibadah juga memunculkan pola gelombang otak tertentu yang sering dikaitkan dengan pengalaman spiritual.
Dalam konteks ini, puasa dinilai memiliki karakteristik yang unik dibandingkan ibadah mahdah lainnya. Puasa memungkinkan seseorang tetap menjalankan aktivitas keseharian sekaligus mempertahankan nilai ibadah.
Ia mencontohkan, seorang dosen yang mengajar dalam keadaan berpuasa menjalankan dua dimensi sekaligus: ibadah mahdah melalui puasa dan ibadah ghairu mahdah melalui aktivitas transfer ilmu.
Pengulangan ibadah secara konsisten, menurutnya, berkontribusi pada pembentukan pola respons di dalam otak. Struktur tersebut menjadi semakin terbiasa untuk mengarahkan individu pada perilaku yang selaras dengan nilai ketakwaan.
Indikator ketakwaan, lanjutnya, dapat dilihat dari cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak yang dilandasi kejernihan pikiran serta kebeningan hati.
Melalui kajian ini, UAD menghadirkan perspektif integratif antara sains dan spiritualitas, sekaligus memperkaya pemahaman jamaah bahwa ibadah Ramadan tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga berdampak pada pembentukan karakter manusia secara menyeluruh.
Be the first to comment