WARTAPTM.ID, BANDA ACEH — Kekhawatiran sempat menyertai langkah Jocelyn Thomas ketika memutuskan menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha). Sebagai mahasiswa beragama Kristen, ia menyadari akan belajar di perguruan tinggi yang mayoritas sivitas akademikanya Muslim.
Namun, kekhawatiran itu perlahan berubah setelah Jocelyn menjalani perkuliahan dan beradaptasi dengan lingkungan kampus. Wisudawati asal Bireuen tersebut akhirnya menyelesaikan pendidikan di Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Unmuha, dan mengikuti prosesi wisuda ke-51 pada Sabtu (26/9/2026).
“Sempat dibayangi rasa cemas, apalagi Unmuha universitas yang berbasis Muslim. Namun hal itu pelan tapi pasti hilang dalam keraguan setelah terus beradaptasi di kampus berlambang Matahari itu,” kata Jocelyn.
Selama menjalani perkuliahan, Jocelyn mengaku tidak merasakan perlakuan berbeda karena keyakinannya. Ia mengatakan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa di lingkungan kampus memperlakukannya secara adil.
“Walau saya satu-satunya non-Muslim, namun sejak pertama masuk di kampus ini hingga diwisuda pada hari yang bersejarah ini saya diperlakukan sangat adil, tidak ada perbedaan dengan mahasiswa lainnya,” ujarnya.
Bagi Jocelyn, pengalaman kuliah di Unmuha tidak hanya memberinya pengetahuan akademik. Interaksi sehari-hari di kampus membuatnya melihat secara langsung bagaimana perbedaan keyakinan dapat berjalan berdampingan dalam ruang pendidikan.
Ia mengapresiasi keterbukaan dosen dan tenaga kependidikan terhadap keberadaannya sebagai mahasiswa non-Muslim.
“Para dosen dan staf di kampus ini selalu terbuka menerima kehadiran mahasiswa non-Muslim. Ini tercatat dengan tinta emas di hati saya. Universitas Muhammadiyah adalah universitas tempat belajar toleransi yang sesungguhnya,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian yang menurut Jocelyn paling berkesan selama menempuh pendidikan. Ia melihat keberagaman keyakinan tidak harus menjadi pembatas dalam hubungan antarmahasiswa.
Menurutnya, perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan membangun hubungan sebagai sesama anak bangsa.
“Di sini juga saya tidak hanya menuntut ilmu akademik, tetapi juga melihat bagaimana nilai-nilai agama diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya.
Setelah menyelesaikan studi, Jocelyn menyampaikan rasa terima kasih kepada Rektor Unmuha, Aslam Nur beserta seluruh sivitas akademika yang telah memberinya kesempatan menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Ia menilai Unmuha telah memberikan ruang bagi mahasiswa dengan latar belakang agama, suku, dan identitas yang beragam untuk belajar dan berkembang.
“Unmuha rumahnya toleransi antarumat beragama dan UNMUHA tempatnya mencerdaskan anak bangsa,” tutur Jocelyn.
Bagi Jocelyn, pengalaman tersebut menjadi bekal yang tidak kalah penting dari gelar akademik yang diperolehnya. Ia berharap kisahnya dapat memberikan gambaran kepada generasi muda di Aceh bahwa perbedaan latar belakang tidak semestinya menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan.
“Unmuha tempat menempa diri, Unmuha terbuka untuk kita semua,” pungkasnya.

Be the first to comment