Oleh: Muhammad Khoirun Nizam
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
WARTAPTM.ID, SURABAYA – Di era media sosial, kita dapat merasa semakin dekat dengan kebenaran justru ketika semakin jauh dari perbedaan. Algoritma bekerja dengan menyajikan konten yang sesuai dengan minat, kebiasaan, dan interaksi kita. Orang-orang yang kita ikuti pun sering kali memiliki pandangan yang serupa. Sementara itu, pendapat yang berbeda perlahan tersingkir dari layar.
Situasi tersebut menjadi lebih kompleks ketika terjadi dalam ruang keagamaan. Kita bukan sekadar berada dalam echo chamber, tetapi dapat terjebak dalam ruang informasi yang membuat sebuah keyakinan terasa semakin benar karena terus-menerus diulang oleh orang-orang yang kita percaya.
Di sinilah tabayyun menemukan relevansinya. Al-Qur’an melalui QS Al-Hujurat ayat 6 mengingatkan orang-orang beriman untuk meneliti dan memeriksa berita sebelum mengambil tindakan agar tidak menimbulkan kerugian kepada orang lain akibat ketidaktahuan. Pesan tersebut sesungguhnya jauh lebih mendalam daripada sekadar imbauan untuk tidak mempercayai hoaks.
Tabayyun menuntut keberanian untuk menunda kesimpulan, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan membuka kemungkinan bahwa pihak yang kita percaya pun dapat keliru.
Persoalannya, budaya digital justru kerap mendorong perilaku sebaliknya. Kita lebih mudah membagikan informasi yang sesuai dengan keyakinan daripada informasi yang telah benar-benar terverifikasi. Ketika sebuah informasi berasal dari tokoh, ustaz, komunitas, atau akun yang kita percaya, standar kritis kita terkadang menurun. Sebaliknya, ketika informasi datang dari kelompok yang berbeda, kecurigaan justru meningkat.
Inilah paradoks echo chamber keagamaan. Semakin homogen lingkungan informasi seseorang, semakin kecil kemungkinan ia berjumpa dengan koreksi yang sebenarnya dibutuhkan.
Ketika Algoritma Mempersempit Pandangan
Fenomena tersebut bukan persoalan teoritis semata. Perkembangan teknologi digital membuat informasi bergerak semakin cepat, sementara kemampuan untuk memeriksa kebenarannya belum tentu berkembang dengan kecepatan yang sama.
Kemunculan kecerdasan artifisial bahkan menghadirkan tantangan baru melalui produksi konten manipulatif, termasuk deepfake. Informasi yang keliru dapat dikemas sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan. Dalam isu-isu sensitif, termasuk agama, informasi semacam itu dapat dengan mudah memantik prasangka, kemarahan, bahkan konflik.
Di tengah kondisi tersebut, persoalan terbesar bukan hanya mereka yang sengaja memproduksi kebohongan. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni orang-orang baik yang menyebarkan informasi keliru karena meyakini bahwa informasi tersebut sedang membela nilai atau kelompok yang mereka percaya.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah sesuatu menjadi benar hanya karena disampaikan oleh orang yang kita percaya? Apakah sebuah informasi layak disebarkan hanya karena sesuai dengan keyakinan kelompok kita?
Pertanyaan semacam ini penting karena algoritma tidak bekerja untuk menentukan kebenaran. Algoritma bekerja dengan membaca perilaku pengguna dan menyajikan konten yang dianggap relevan dengan preferensi mereka. Jika kita terus berinteraksi dengan informasi yang sama, ruang informasi kita pun semakin seragam.
Akibatnya, kita bisa merasa bahwa pandangan yang muncul di layar adalah gambaran keseluruhan kenyataan, padahal bisa jadi itu hanya sebagian kecil dari realitas yang terus diperkuat oleh algoritma.
Tabayyun Bukan Sekadar Cek Fakta
Karena itu, tabayyun tidak seharusnya direduksi menjadi aktivitas memeriksa apakah sebuah pesan WhatsApp benar atau salah. Tabayyun perlu ditempatkan sebagai budaya berpikir dan sikap moral dalam berkomunikasi.
Setidaknya ada tiga keberanian yang diperlukan.
Pertama, keberanian memeriksa informasi meskipun informasi tersebut berasal dari orang yang kita hormati. Menghormati seseorang tidak berarti menerima seluruh informasi yang disampaikannya tanpa pemeriksaan.
Kedua, keberanian membaca sumber yang berbeda dari lingkaran kita sendiri. Perbedaan tidak selalu berarti ancaman. Dalam banyak situasi, perbedaan justru menjadi ruang untuk menguji dan memperkaya pemahaman.
Ketiga, keberanian mengoreksi informasi yang telanjur kita sebarkan. Mengakui kesalahan tidak mengurangi kehormatan seseorang. Sebaliknya, kesediaan untuk memperbaiki kesalahan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dalam ruang publik.
Pada titik ini, tabayyun bukan tanda lemahnya iman. Justru sebaliknya, tabayyun merupakan salah satu bentuk tanggung jawab moral dari iman.
Sebab, kesalehan tidak hanya tercermin dari seberapa banyak seseorang beribadah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan informasi dan orang lain. Menyebarkan kabar yang belum terverifikasi dapat berdampak pada kehormatan, reputasi, bahkan keselamatan seseorang.
Jangan Sampai Menjadi Fanatisme Algoritmik
Kita perlu mengubah pertanyaan ketika menerima sebuah informasi.
Bukan lagi, “Apakah informasi ini sesuai dengan kelompok saya?”
Melainkan, “Apakah informasi ini benar, dari mana sumbernya, dan apa akibatnya jika saya menyebarkannya?”
Perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang besar. Ia memindahkan ukuran kebenaran dari identitas kelompok menuju proses verifikasi.
Agama semestinya tidak menjadi tembok yang menghalangi proses pemeriksaan informasi. Agama justru harus menjadi kompas yang membimbing seseorang untuk bersikap jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam menerima maupun menyampaikan informasi.
Jika tabayyun hanya dilakukan terhadap informasi dari “orang lain”, sementara informasi dari kelompok sendiri diterima tanpa pemeriksaan, yang tumbuh bukanlah kesalehan digital. Yang muncul justru fanatisme algoritmik.
Fanatisme semacam ini berbahaya karena seseorang dapat merasa semakin saleh ketika semakin tertutup terhadap koreksi. Ia menganggap informasi dari kelompok sendiri selalu benar dan informasi dari kelompok lain selalu mencurigakan.
Padahal, kebenaran tidak menjadi benar karena siapa yang menyampaikannya. Begitu pula kekeliruan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena berasal dari orang yang kita hormati.
Di tengah banjir informasi dan kecanggihan deepfake, umat beragama membutuhkan lebih dari sekadar literasi digital. Kita membutuhkan literasi tabayyun: kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum percaya, memeriksa sebelum membagikan, dan berpikir sebelum menghakimi.
Sebab di zaman ketika algoritma dapat memperkuat apa yang ingin kita dengar, menjaga kebenaran membutuhkan satu keberanian sederhana: bersedia menemukan bahwa keyakinan kita sendiri mungkin perlu dikoreksi.
Be the first to comment