WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Pengukuhan guru besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga ruang diseminasi gagasan ilmiah. Salah satunya ditunjukkan oleh Wahyu Widyaningsih, yang mengangkat potensi ganggang hijau sebagai kandidat obat herbal terstandar.
Dalam pidato pengukuhannya pada Sidang Terbuka Senat UAD, Sabtu (18/4/2026), Widya membawakan topik mengenai pengembangan Ulva lactuca L. melalui pendekatan farmakologi eksperimental praklinik.
Bidang ini berfokus pada pengujian efek dan keamanan obat melalui studi laboratorium, baik secara in vitro maupun in vivo, sebelum masuk tahap uji klinis pada manusia.
Ia menyoroti bahwa Indonesia memiliki sumber daya ganggang hijau yang melimpah, termasuk di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. Potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku obat tradisional berbasis riset.
“Ulva lactuca memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi ekstrak herbal terstandar yang memiliki bukti aktivitas farmakologis dan keamanan,” ungkapnya.
Dari Ekstraksi hingga Uji Farmakologi
Dalam penelitiannya, Widya mengembangkan ekstrak etanol Ulva lactuca yang kemudian diuji dari berbagai aspek, mulai dari aktivitas farmakologi hingga tingkat keamanannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki potensi kardioprotektif, yakni mampu melindungi sel otot jantung. Selain itu, kandungan antioksidannya juga berperan dalam melindungi jaringan tubuh dari kerusakan, termasuk pada mukosa lambung.
Temuan lain menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki potensi sebagai agen gastroprotektif serta relatif aman berdasarkan uji toksisitas akut dan subkronis.
Pengembangan tidak berhenti pada tahap ekstrak. Widya juga merancang formulasi dalam bentuk gel yang berpotensi digunakan sebagai terapi pendukung untuk luka bakar dan luka sayat.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan produk herbal berbasis ganggang hijau masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait biaya produksi dan aspek keberlanjutan lingkungan.
Untuk menjawab hal tersebut, Widyaningsih kini mengembangkan metode ekstraksi berbasis ultrasonik yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan. Ia juga terus menguji potensi antiinflamasi dari produk yang dikembangkan.
Riset ini menjadi contoh bagaimana pengukuhan guru besar tidak hanya menandai capaian akademik, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya alam lokal.
Be the first to comment