WARTAPTM.ID, MAKASSAR – Fenomena El Nino mulai menjadi perhatian serius di Indonesia pada 2026. Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebut musim kemarau tahun ini datang lebih awal, dengan durasi lebih panjang dan kondisi yang cenderung lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sebagian besar wilayah, termasuk Sulawesi, diperkirakan mengalami percepatan awal kemarau, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar, Nurlina, menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang berdampak luas terhadap sistem cuaca global.
“El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang memiliki pengaruh global terhadap cuaca. Efeknya dapat mengurangi pasokan air permukaan dan membuat musim kemarau lebih kering,” ujarnya.
Tak Hanya Lingkungan, Kesehatan Ikut Terancam
Menurutnya, dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan, tetapi juga merambah sektor kesehatan dan ketahanan pangan. Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit.
“Perubahan cuaca ekstrem bisa meningkatkan kerawanan penyakit, seperti dehidrasi, gangguan pernapasan, hingga penurunan daya tahan tubuh,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan perubahan pola suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer yang memengaruhi pembentukan awan. Akibatnya, distribusi hujan menjadi tidak merata, sementara suhu udara meningkat dan kelembaban berubah.
“Perubahan ini perlu dipahami bukan sekadar cuaca biasa, tetapi fenomena yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Makassar Mulai Terasa Panas
Di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, suhu panas mulai terasa lebih intens dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini sejalan dengan prediksi BMKG bahwa wilayah pesisir selatan akan lebih awal memasuki musim kemarau, yakni sejak April 2026.
“Fenomena suhu panas mulai terasa di Sulawesi Selatan, terutama Makassar, karena wilayah ini memang lebih awal memasuki musim kemarau,” kata Nurlina.
Ia menambahkan, kondisi panas yang dirasakan masyarakat saat ini juga dipengaruhi oleh masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Pada fase ini, tutupan awan berkurang sehingga intensitas penyinaran matahari meningkat.
“Makassar sedang berada pada masa peralihan, sehingga suhu terasa lebih panas dari biasanya,” ujarnya.
Saat ini, suhu udara di Makassar berkisar antara 30 hingga 34 derajat Celsius. Meski masih tergolong normal untuk wilayah tropis, sensasi panasnya terasa lebih menyengat dan berpotensi meningkat hingga puncak kemarau pada Mei hingga September.
Perlu Antisipasi Sejak Dini
Menghadapi potensi dampak El Nino, Nurlina menekankan pentingnya langkah antisipatif, terutama di sektor pertanian dan kehidupan sehari-hari.
“Langkah yang bisa dilakukan antara lain penggunaan irigasi efisien, varietas tanaman tahan kering, serta pengelolaan hama dan penyakit yang adaptif,” ungkapnya.
Di tingkat masyarakat, ia mengimbau pentingnya penghematan air, menjaga kesehatan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca.
“Yang paling penting adalah kesiapan masyarakat untuk beradaptasi lebih awal,” tegasnya.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dapat diperkuat untuk meningkatkan literasi kebencanaan iklim, sehingga dampak El Nino tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Be the first to comment