Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Wahyuddin, seorang dosen Program Studi Teknologi Pendidikan FKIP, berhasil meraih beasiswa ASEAN–China Young Leaders Scholarship dan diterima sebagai mahasiswa doktoral di Huazhong University of Science & Technology, Tiongkok. Kampus elite yang kerap dijuluki MIT of China itu menjadi tujuan studinya mulai tahun akademik ini.
Bagi Wahyuddin, pencapaian ini bukan sekadar keberhasilan pribadi. Ia menegaskan bahwa kesempatan tersebut adalah amanah sekaligus jalan untuk memperluas jejaring internasional bagi Unismuh Makassar. “Harapannya, peluang ini bisa membuka pintu kerja sama riset dan pendidikan yang lebih luas bagi kampus tercinta,” ujarnya, Ahad (14/9).
Setelah menuntaskan studi magister pada 2019, Wahyuddin kembali mengabdi di Unismuh Makassar. Ia aktif mendampingi mahasiswa melalui Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) di bawah koordinasi Wakil Rektor III. Dari wadah itulah ia ditempa menghadapi tantangan prestasi mahasiswa di level nasional maupun internasional.
“LPKA itu ruang bertumbuh bagi saya. Di sana saya belajar arti berjuang, mendampingi mahasiswa, sekaligus mengasah diri sebagai akademisi muda,” tutur Wahyuddin.
Selain berkiprah di LPKA, ia juga mengajar sebagai dosen Persyarikatan di Program Studi Teknologi Pendidikan FKIP. Menurutnya, ruang kelas maupun forum internasional adalah panggung yang sama pentingnya untuk menebar manfaat dan meneguhkan komitmen peningkatan kapasitas akademik.
Pilihan Huazhong University bukan tanpa alasan. Kampus tersebut konsisten berada di jajaran 10 besar universitas terbaik di Tiongkok, dengan reputasi kuat di bidang riset teknologi. “Homebase saya teknologi pendidikan. Jadi kampus yang menjadikan teknologi sebagai pilar riset jelas sangat relevan,” jelasnya.
Meraih ASEAN–China Young Leaders Scholarship semakin memperkuat motivasinya. Beasiswa itu ia anggap bukan hanya tiket pendidikan, melainkan pintu masuk ke jaringan global. “Dengan jejaring itu, Insya Allah akan lahir peluang kerja sama yang bermanfaat untuk mahasiswa dan kampus kita di Makassar,” katanya.
Perjalanan meraih beasiswa tidaklah mudah. Wahyuddin butuh tiga tahun upaya, dari mendaftar di berbagai negara hingga akhirnya diterima di Tiongkok. Dukungan keluarga, rekan dosen, dan kolega di LPKA menjadi kekuatan utama. Tantangan bahasa, baik Inggris maupun Mandarin, ia hadapi dengan disiplin berlatih setiap hari.
“Bahasa adalah kunci. Banyak latihan, praktik, dan konsistensi adalah cara saya bertahan,” ungkapnya.
Bagi Wahyuddin, mahasiswa Indonesia harus berani melibatkan diri dalam riset global agar tidak tertinggal. “Kita dituntut lebih kritis, melek teknologi, dan rajin membaca referensi. Itu modal untuk menghasilkan gagasan solutif, baik bagi bangsa maupun persyarikatan,” tegasnya.
Ia berharap langkahnya menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni Unismuh Makassar. Bahwa tampil di panggung internasional bukan sekadar impian jauh, melainkan peluang nyata bagi kader Muhammadiyah yang mau bekerja keras, disiplin, dan membangun jejaring luas.
Be the first to comment