Milad 111 Tahun Suara Muhammadiyah, Media Tertua di Indonesia

Milad 111 Tahun Suara Muhammadiyah, Haedar Nashir Tekankan Pentingnya Menjaga Interitas dan Kebenaran dalam Jurnalistik

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Memasuki usia ke-111 tahun, Suara Muhammadiyah terus dihadapkan pada tantangan menjaga tradisi jurnalistik sekaligus beradaptasi dengan perubahan lanskap media digital. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya menjaga kebenaran dan menghadirkan informasi yang mencerdaskan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di Grha SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Kamis (13/8/2026). Momentum milad tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026.

Haedar memiliki perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik. Ia mulai menjadi wartawan ketika masih mahasiswa pada awal 1980-an dan kemudian menjalani berbagai peran di Suara Muhammadiyah, mulai dari wartawan, redaksi, hingga pemimpin redaksi.

“Secara persisnya, ada yang mungkin lebih awal lagi atau lebih lanjut. Saya benar-benar menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah, media tertua di Indonesia yang berdiri pada 1915,” kata Haedar.

Perjalanan tersebut, menurut Haedar, membentuk jiwa kewartawanan yang terus melekat hingga kini. Karena itu, ketika menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers pada 2026, penghargaan tersebut tidak hanya dipandang sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga bagian dari perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik.

“Jadi wartawan beneran tetapi tidak punya kartu. Tapi ingin banget jadi wartawan punya kartu. Dan ternyata baru 42 tahun kartu itu saya peroleh. Jadi bukan semata-mata penghargaan, tetapi memang itu bagian dari jiwa kewartawanan,” ujar Haedar.

Di tengah perubahan teknologi dan derasnya arus informasi, Haedar mengingatkan agar wartawan tidak kehilangan substansi dalam menjalankan profesinya. Menurutnya, perkembangan media digital tidak boleh membuat pers terjebak pada narasi yang sekadar menarik perhatian, tetapi miskin nilai dan tidak mencerdaskan.

“Jangan terjebak pada narasi-narasi yang tidak mencerdaskan masyarakat, tidak mencerdaskan bangsa,” tegasnya.

Bagi Haedar, jurnalisme tetap harus berpijak pada pencarian dan penyampaian kebenaran. Wartawan dituntut memiliki sensitivitas dalam membaca realitas sekaligus kemampuan mengolahnya menjadi informasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Selalu menulis sesuatu yang benar sampai ke titik kebenaran terbaik, kebenaran yang tertinggi,” tandasnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi Suara Muhammadiyah yang telah melewati perjalanan lebih dari satu abad. Sejak pertama kali terbit pada 1915, media ini tidak hanya menjalankan fungsi pemberitaan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi literasi dan dakwah Muhammadiyah.

Memasuki usia ke-111 tahun, Suara Muhammadiyah diharapkan mampu mempertahankan identitas tersebut sembari terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari, menegaskan bahwa usia panjang Suara Muhammadiyah tidak boleh membuat media tersebut berhenti beradaptasi. Namun, perubahan platform dan teknologi harus tetap berjalan seiring dengan penjagaan terhadap nilai dan karakter media.

Menurut Deni, Suara Muhammadiyah tidak menjadikan viralitas dan jumlah pengikut sebagai ukuran utama keberhasilan media.

“Tidak tergiur untuk mencari berita-berita yang viral, berita-berita yang heboh. Insyaallah kami tetap pada jalur yang ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. Kita bukan mengejar viralitas, kita tidak mengejar follower, tetapi yang kita ajarkan adalah pencerahan dan pendidikan,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan Suara Muhammadiyah di tengah menjamurnya berbagai media justru harus semakin mempertegas fungsi sebagai media umat.

“Walaupun Majalah Suara Muhammadiyah ini majalah tertua di Republik ini, insyaallah tetap berada sesuai garisnya untuk tidak hanya sekadar pemberitaan, tetapi juga sebagai pencerahan, pengayaan, dan pemberdayaan,” tegas Deni.

Menurutnya, konsistensi tersebut menjadi salah satu alasan Suara Muhammadiyah mampu bertahan hingga lebih dari satu abad. Identitas sebagai media Persyarikatan membuat Suara Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk tetap membawa nilai-nilai keislaman dan Kemuhammadiyahan dalam setiap kiprahnya.

Be the first to comment

Leave a Reply